pupuk
iklan ulta memorandum

BI Jember Ibaratkan Ekonomi Global seperti Ombak Pantai Selatan, Rupiah Hadapi Tekanan

BI Jember Ibaratkan Ekonomi Global seperti Ombak Pantai Selatan, Rupiah Hadapi Tekanan

Deputi Kepala Perwakilan BI Jember Ahmad, saat menjadi pemateri media gathering yang diinisiasi OJK Jember.--

SITUBONDO, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Deputi Kepala Perwakilan BI Jember Ahmad mengibaratkan kondisi ekonomi global seperti ombak besar di Pantai Selatan Yogyakarta yang penuh ketidakpastian dan turut menekan perekonomian Indonesia, Rabu 23 September 2026.

Ahmad menyampaikan hal tersebut saat menjadi pemateri media briefing dan gathering bertajuk "Dinamika Industri Media dan Peran Media dalam Pemberitaan Ekonomi" yang diinisiasi OJK Jember.

BACA JUGA:Gelar Gathering Bersama 40 Wartawan Sekarkijang, OJK Jember Bedah Dinamika Ekonomi Daerah

Kegiatan tersebut diikuti 40 jurnalis dari lima kabupaten di wilayah Sekarkijang, yakni Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, dan Lumajang.


Mini kidi--

Di hadapan para awak media, Ahmad menjelaskan dinamika ekonomi lokal tidak bisa dilepaskan dari rentetan situasi global dan nasional. Konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk ketegangan di Selat Hormuz yang merupakan jalur bagi 20 persen energi dunia, serta konflik berkepanjangan Rusia dan Ukraina, menjadi pemicu ketidakstabilan global.

"Dampak situasi tersebut sangat dirasakan oleh Indonesia yang menyandang status sebagai negara net importir minyak," ujar Ahmad, Rabu 23 September 2026.

Menurutnya, ketergantungan tinggi terhadap impor minyak, khususnya dari Timur Tengah, membuat posisi Indonesia rentan terhadap gejolak harga energi dunia.

"Akibat runtuhnya stabilitas geopolitik ini, proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 terpaksa dipangkas menjadi 3,0 persen, turun dari proyeksi tahun sebelumnya yang berada di angka 3,5 persen," bebernya.

BACA JUGA:Kisah Nenek Shaimah, 31 Tahun Sebatang Kara di Papua hingga Pulang Lewat Live TikTok Bupati Situbondo

Selain penurunan pertumbuhan ekonomi, masyarakat dunia juga dihadapkan pada lonjakan inflasi global yang masih berada di atas 4,5 persen. Untuk meredam laju inflasi tersebut, bank sentral di berbagai negara menaikkan tingkat suku bunga acuan.

"Fenomena tersebut terlihat di Amerika Serikat, bahkan di Jepang yang selama ini dikenal menerapkan suku bunga nol persen, kini sudah menaikkannya ke level 1 sekian persen. Langkah serupa diambil oleh Bank Indonesia (BI) di bawah kepemimpinan Gubernur Perry Warjiyo," bebernya.

Ahmad menambahkan, BI bahkan sempat menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan di luar jadwal bulanan rutin untuk mengambil keputusan cepat terkait kenaikan BI Rate.

"Kebijakan suku bunga tinggi di negara adikuasa seperti Amerika Serikat memicu terjadinya aliran modal keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia," katanya.

Sumber: