pupuk
iklan ulta memorandum

Banjir Bandang Solok Sebabkan Dua Orang Hilang dan Empat Warga Luka

Banjir Bandang Solok Sebabkan Dua Orang Hilang dan Empat Warga Luka

Plt Kapusdatin dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam jumpa pers beberapa waktu lalu. --Kompas

SOLOK, MEMORANDUM.DISWAY.IDBanjir bandang akibat hujan lebat 94 milimeter per hari pada Senin 21 September 2026 sekitar pukul 23.00 WIB menyebabkan dua orang hilang, empat warga luka-luka, 50 warga mengungsi, dan 100 rumah terdampak, Selasa 22 September 2026.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana Berton SP Panjaitan mengatakan, dari empat warga yang terluka, satu orang mengalami luka berat dan tiga lainnya luka ringan.

BACA JUGA:Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana, The Alana Malang Gelar Simulasi Fire Drill Berkala

"Saat ini ada 2 korban yang belum ditemukan, 1 luka berat, dan 3 luka ringan. Sementara, untuk pengungsi ada 50 warga dan ada 100 rumah yang terdampak," kata Berton di Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jakarta, Selasa 22 September 2026.

BACA JUGA:Banjir Bandang Terjang Kompleks Kantor Bupati Solok, Akses Padang-Solok Tertutup Material Lumpur

Selain rumah warga, banjir bandang atau galodo tersebut berdampak pada 10 kantor pemerintah dan tiga kendaraan bermotor milik warga.


Mini kidi--

Berton mengatakan, satu jembatan juga putus akibat banjir.

Namun, jembatan tersebut kini sudah bisa dilalui secara darurat.

"Pendataan dampak masih tetap berlangsung. Kemudian Tim SAR sudah menyusur sungai dan tim gabungan sudah melakukan pembersihan lumpur," ujarnya.

BACA JUGA:Surabaya Masuki Puncak Pancaroba, BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang Hingga Mei

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengonfirmasi banjir bandang yang terjadi pada Senin 21 September 2026 malam dipicu curah hujan lebat dengan intensitas tinggi.

Fenomena tersebut menunjukkan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi meski sebagian wilayah Indonesia tengah berada dalam periode kemarau.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Andri Ramadhani mengatakan, hujan dengan intensitas mencapai 94 milimeter per hari mengguyur wilayah tersebut secara terus-menerus hingga memicu luapan air yang berujung banjir bandang.

Sumber: