Demo Pasar Tanjung Jember Ricuh, Kadiskopumdag Pingsan dan Massa Lempar Tomat
Aksi massa dari GMNI Jember di depan Kantor Pemkab Jember.--
JEMBER, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Aksi demonstrasi Aliansi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) bersama pedagang, kuli angkut, dan warga Pasar Tanjung di depan Kantor Pemkab Jember, Jalan Sudarman, Selasa 15 September 2026, berujung ricuh.
Kepala Diskopumdag Jember Sartini pingsan saat menemui massa, sementara demonstran melempar tomat ke gedung kantor bupati.
BACA JUGA:Warga Sumberpinang Terancam Krisis Air, Satlantas Polres Jember dan PMI Pasok 5.000 Liter
Aksi tersebut digelar untuk menyampaikan tuntutan terkait tata kelola Pasar Tanjung. Massa juga mendesak Bupati Jember Muhammad Fawait menemui mereka dan merespons tuntutan yang disampaikan.

Mini kidi--
Di tengah orasi massa, Sartini yang diterjunkan menemui demonstran mendadak drop dan ambruk. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan massa. Kekecewaan meningkat karena Bupati Jember tidak kunjung menemui demonstran dan tuntutan mereka disebut belum ditandatangani.
Massa kemudian menjebol gerbang Pemkab Jember dan melempar buah tomat busuk ke gedung kantor bupati sebagai simbol mosi tidak percaya.
"Bupati mangkir! Dia hanya hadir mengumbar janji manis saat kampanye. Tapi begitu kami turun bersama pedagang kecil dan kuli angkut, mereka kabur!" teriak orator aksi, Mochammad Faizin.
BACA JUGA:P-APBD Jember 2026 Disahkan, Serapan Baru 60 Persen, Bupati Fawait Kejar 95 Persen dalam 3 Bulan
Dalam aksi tersebut, massa membawa tujuh tuntutan. Di antaranya meminta penghentian praktik penggusuran dan rekayasa lalu lintas di Jalan Samanhudi serta penanganan dugaan premanisme di kawasan Pasar Tanjung.
"Bulan lalu ada warga yang melaporkan dugaan pungli, tapi yang melapor justru digalungi celurit! Kami menuntut Pemkab membentuk Satgas Pasar Tanjung dan menyapu bersih intimidasi ini," tegas Faizin.
Sementara itu, Erik, warga yang tumbuh besar di kawasan Pasar Tanjung, menyebut kondisi pasar saat ini memprihatinkan. Menurut dia, fungsi pasar tersebut mati suri dan hanya sekitar 30 persen pedagang yang masih bertahan di dalam gedung. Pedagang lainnya berjualan hingga bahu jalan dan disebut menutup akses darurat.
"Dulu tahun 1990-an pasar ini hidup dan tertib. Sekarang kosong melompong. Bagaimana kalau kebakaran atau ada yang butuh ambulans? Kendaraan darurat tak akan bisa masuk!" ujar Erik.
BACA JUGA:Bupati Jember Pastikan Defisit APBD untuk Percepat Pembangunan dan Kesejahteraan Warga
Sumber:







