iklan HUT R!

Menyelamatkan Porsi Anak Negeri

Menyelamatkan Porsi Anak Negeri

A. Nawawi Maksum, Pengasuh PP Nurut Taqwa, Bondowoso--

Matahari pagi menyusup lembut lewat celah jendela kelas. Di atas meja, barisan piring saji terdiam kaku. Anak-anak duduk bergeming, menanti janji suapan hangat dari negara sebuah asa yang merajut hari esok.

Namun, tiada aroma sedap yang mengepul. Angin pagi justru membawa kabar duka: ratusan dapur katering penyedia makanan mendadak ditutup paksa petugas. Alasannya telak namun klise, standar kebersihan dikorbankan demi memangkas biaya dan mendulang untung kilat. Niat mulia mencetak generasi unggul seketika terancam berubah menjadi drama pilu, lari maraton menuju toilet sekolah.

BACA JUGA:Komersialisasi Agama di Ruang Publik


Mini kidi--

Ironi ini terhampar begitu telanjang. Di dalam kelas, anak-anak hanya bisa pasrah tanpa daya. Sebaliknya, di luar gerbang, para penyedia jasa berteriak dengan urat leher tegang.

Mereka meradang bukan demi piring anak-anak yang kosong, melainkan karena cicilan truk operasional terancam macet dan margin keuntungan menyusut. Di sinilah letak banalitas hari ini: ketika urusan dapur berubah menjadi komoditas spekulatif, nurani bersih lenyap ditelan ambisi harta.

Gaya hidup semacam ini seolah mengingatkan kita pada sunyi dan dinginnya dunia rekaan Umar Kayam. Modernisasi kerap menyeret manusia ke dalam pusaran pragmatisme, di mana segala hal bahkan suapan anak-anak diukur lewat kalkulasi untung-rugi. Mereka lupa, makanan bukanlah sekadar barang dagangan di pasar, melainkan zat suci yang membangun sel-sel otak dan raga tunas bangsa.

BACA JUGA:Ketika Ketegasan Bertemu Ketawadhuan: Komjen Pol Syahar dan Harapan Menjaga Martabat Polri

Kritik atas abainya penguasa terhadap keselamatan rakyat bukanlah cerita baru. Jauh sebelum era korporasi instan lahir, para pemikir besar telah meletakkan fondasinya. Imam al-Qarafi dalam Al-Furuq menegaskan bahwa kuasa negara harus berporos pada kemaslahatan rakyat, bukan tunduk pada tekanan modal. 

Imam al-Mawardi dalam Adab al-Dunya wa al-Din mengingatkan bahwa merawat keselamatan publik adalah harga mati. Menertibkan dapur yang kotor bukanlah kesewenang-wenangan, melainkan ikhtiar suci agar tunas muda tidak layu sebelum berkembang.

Dari kacamata ekonomi moral James C. Scott, bisnis yang mengabaikan keadilan dan keselamatan sesama pasti melahirkan luka sosial yang mendalam. Mencari laba di atas kesehatan publik sama saja dengan menaruh bom waktu di meja makan sekolah.

BACA JUGA:Menjaga Pelita Independensi: Refleksi dari Madinah Menjelang Umrah

Ketika harta diletakkan jauh di atas keselamatan nyawa, peradaban ekonomi telah kehilangan jiwanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan kita berada di kisaran 8,07 persen menyimbolkan 22,93 juta jiwa yang hidup di atas garis kerapuhan. Di balik angka-angka itu, jutaan ibu di rumah setiap hari cemas menatap kompor yang hampir padam. 

Sumber: