iklan HUT R!

Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur Bergerak Menuju Merdeka Sampah

Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur Bergerak Menuju Merdeka Sampah

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ikut bergotong royong bersih-bersih sampah di sungai saat momentum World Cleanup Day. --

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi pengingat bahwa semangat Kemerdekaan tak hanya berbicara tentang bebas dari penjajahan, tetapi juga tentang membebaskan lingkungan dari persoalan sampah.

Semangat itulah yang kini didorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur melalui gerakan Jatim Merdeka Sampah. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jatim menegaskan, cita-cita tersebut tidak cukup diwujudkan dengan memperbanyak pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA), melainkan harus dimulai dari sumbernya.

BACA JUGA:Timbulan Sampah Jatim Capai 5,5 Juta Ton, DLH Dorong Pengolahan Jadi Energi


Mini kidi--

Kepala DLH Provinsi Jawa Timur Kepala DLH Provinsi Jawa Timur, Nurkholis, mengatakan, capaian pengelolaan sampah Jatim sudah menunjukkan kemajuan signifikan. Namun, kondisi tersebut belum bisa disebut sepenuhnya merdeka dari sampah.

"Bu Gubernur sangat konsen terhadap isu lingkungan. Belaiu juga mengerahkan segala lini. Saat ini, Jawa Timur berada pada tahap percepatan dalam pengelolaan sampah yang tuntas dari hulu hingga hilir," ujar Nurkholis, saat dikonfirmasi pada Jumat, 14 Agustus 2026.

Data DLH Jatim mencatat timbulan sampah di Jawa Timur mencapai 16.929,67 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sebanyak 57,54 persen telah berhasil ditangani, dengan sekitar 9.742,136 ton per hari sudah terkelola.

BACA JUGA:DLH Jatim dan Memorandum Perkuat Sinergi, Kawal Edukasi dan Kepedulian Lingkungan

Dari sampah yang terkelola itu, sekitar 4.584,676 ton per hari didaur ulang, sedangkan 5.157,46 ton per hari masih masuk ke TPA.

Angka tersebut menunjukkan pekerjaan rumah yang masih besar. Sebab, konsep Merdeka Sampah bukan berarti Jawa Timur berhenti menghasilkan sampah, tetapi memastikan sampah yang dihasilkan dapat dikurangi, dipilah, digunakan kembali, didaur ulang dan diolah sehingga hanya residu yang berakhir di TPA.

Salah satu tantangan terbesar justru berada di tingkat rumah tangga. Masih banyak masyarakat yang belum terbiasa memilah sampah sejak dari sumbernya. Akibatnya, sampah organik dan anorganik bercampur sehingga menyulitkan proses pengolahan dan meningkatkan beban pengelolaan.

BACA JUGA:Genjot Capaian RTH, DPRD Gresik Dorong DLH Maksimalkan Perbup Penyelenggaraan Pohon

Karena itu, DLH Jatim mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui berbagai program. Mulai dari Program Kampung Iklim (ProKlim), Sekolah Adiwiyata, Eco Pesantren hingga Desa/Kelurahan Berseri.

Program Eco Pesantren menjadi salah satu contoh bagaimana pengelolaan sampah dibangun melalui komunitas. Pada 2025, sebanyak 40 pesantren mendapatkan penghargaan Eco Pesantren. DLH Jatim juga menyiapkan 20 kendaraan roda tiga dan 260 drop box sampah untuk mendukung pengelolaan lingkungan di pesantren penerima penghargaan.

Sumber:

Berita Terkait