Bromo Berasap, Dapur Sopir Jeep Wisata Pasuruan Ikut Padam
Konvoi jeep mengantar wisatawan sebelum kebakaran Bromo.--
PASURUAN, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Kebakaran kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) membuat akses wisata ditutup dan berdampak pada penghasilan sopir jeep wisata yang kehilangan wisatawan.
Kepulan asap tebal yang melanda kawasan TNBTS akibat kebakaran hutan membawa dampak signifikan, utamanya bagi para pelaku pariwisata.
Ribuan wisatawan batal berkunjung ke Bromo sehingga ratusan armada jeep wisata sangat terpukul. Mereka yang biasa menderu di lautan pasir kini terparkir membisu di garasi.
Kondisi ini dirasakan betul oleh Aldis Tinton, seorang sopir jeep wisata asal Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Bagi Aldis dan rekan-rekan seprofesinya, penutupan kawasan wisata Bromo demi keselamatan bukan hanya berarti libur panjang, melainkan hilangnya sumber penghidupan utama keluarga mereka.
Ditemui di halaman rumahnya di kawasan Tosari, Aldis tampak sedang membersihkan jeep hardtop kesayangannya yang tertutup debu.
BACA JUGA:Amuk Api Bromo, Wisata Ditutup Total

Mini kidi--
Tidak ada deru mesin V8 yang biasa ia panasi setiap dini hari. Yang terdengar hanya desau angin dingin khas pegunungan.
"Biasanya jam dua pagi saya sudah siap di jalur, jemput tamu ke Penanjakan atau ke Bromo, sekarang? Jangankan tamu, mau keluar masuk kawasan saja sudah ditutup total demi keselamatan, apalagi kebakaran makin meluas," keluh Aldis Tinton, Kamis 13 Agustus 2026.
Pria paruh baya ini menceritakan ihwal kebakaran yang melanda kawasan Bromo membuat pihak pengelola TNBTS terpaksa menutup total seluruh akses wisata.
Keputusan ini memang mutlak diambil untuk mencegah korban jiwa. Namun, dampaknya langsung menghantam kantong para pelaku wisata lokal.
Dalam kondisi normal, Aldis bisa melayani wisatawan hingga empat sampai lima trip dalam seminggu, bahkan bisa lebih saat musim liburan.
BACA JUGA:Akses Bromo dari Senduro Ditutup Sementara Akibat Karhutla, Keselamatan Pengunjung Jadi Prioritas

Gempur Rokok Illegal--
Penghasilan tersebut diandalkannya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari serta biaya sekolah anak-anaknya.
Kini, selama Bromo libur karena terbakar, praktis nihil pemasukan yang didapat Aldis dan kawan seprofesinya. Ia mengaku hanya bisa mengandalkan sisa tabungan seadanya untuk bertahan hidup dari hari ke hari.
Beberapa rekan sesama sopir jeep bahkan terpaksa beralih profesi, sementara menjadi buruh tani atau mencari rumput untuk pakan ternak.
"Mau bagaimana lagi, ini musibah alam, kalau dipaksakan masuk selain melanggar aturan, taruhannya nyawa, harapan kami cuma satu, semoga api cepat padam, titik api bisa diatasi oleh tim gabungan, kalau bisa ditambah ada hujan turun," ucap Aldis Tinton.
Pemerintah daerah bersama pihak balai besar TNBTS serta relawan saat ini masih berjibaku memadamkan api yang sulit dijangkau di medan berbukit terjal.
Para sopir jeep di Tosari, Ngadas, dan Sukapura kini hanya bisa berdoa agar paru-paru Jawa Timur tersebut segera pulih. Bagi Aldis Tinton dan ratusan sopir jeep lainnya, libur kali ini bukanlah liburan yang menyenangkan.
Ini adalah masa menunggu dalam cemas, di mana mereka berharap abu kebakaran segera hilang dan deru jeep wisata bisa kembali menggema di lautan pasir Bromo. (kd/mh)
Sumber:





