iklan HUT R!

SMK Go Global Jatim Siapkan SDM Profesional untuk Pasar Kerja Dunia

SMK Go Global Jatim Siapkan SDM Profesional untuk Pasar Kerja Dunia

Sosialisasi dan Pemetaan Kompetensi SMK Go Global Jawa Timur 2026 di Graha Kadin Jatim, Kota Surabaya.--

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Jawa Timur memperkuat strategi penyiapan pekerja migran dengan mengubah pendekatan dari sekadar mengirim tenaga kerja ke luar negeri menjadi menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki keahlian, sertifikasi, dan kemampuan beradaptasi sesuai kebutuhan pasar kerja global, Rabu 12 Agustus 2026.

Langkah tersebut dibahas dalam kegiatan Sosialisasi dan Pemetaan Kompetensi SMK Go Global Jawa Timur 2026 bertema “Sinergi Ekosistem Vokasi Pekerja Migran Indonesia, Wujudkan SDM Unggul Kelas Dunia” di Graha Kadin Jatim, Kota Surabaya.


Mini kidi--

Kegiatan yang merupakan kolaborasi Kadin Jawa Timur, Kadin Institute dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) itu, mempertemukan berbagai unsur vokasi. Mulai dari lembaga pelatihan kerja (LPK), lembaga kursus dan pelatihan (LKP), lembaga sertifikasi profesi (LSP), balai latihan kerja (BLK), asosiasi vokasi hingga perwakilan SMK.

Direktur Kadin Institute, Nurul Indah Susanti, mengatakan pemetaan kompetensi menjadi langkah penting agar calon pekerja migran tidak hanya memiliki kemampuan dasar, tetapi benar-benar disiapkan berdasarkan kebutuhan negara penempatan.

“Sekarang job-nya banyak, sehingga job ini harus dimatchingkan. Tugas kita memetakan kompetensi pekerja yang akan dikirim ke luar negeri dengan kompetensi yang diinginkan oleh negara penempatan,” ujar Nurul.

BACA JUGA:Kadin Jatim Dorong Sertifikasi Kompetensi untuk Perkuat SDM Hadapi Tantangan Global

Menurut dia, tenaga kerja yang ingin bekerja di luar negeri harus memiliki tiga modal utama, yakni keterampilan, pengetahuan, dan sikap. Karena itu, pelatihan perlu menggabungkan kemampuan teknis dengan kemampuan nonteknis, termasuk karakter dan soft skill.

Kebutuhan tenaga kerja juga semakin spesifik. Di sektor manufaktur, misalnya, pasar kerja membutuhkan tenaga untuk packing, screwing, fitting, pengelasan industri hingga pengoperasian teknologi. Sementara sektor pertanian membutuhkan tenaga untuk penanaman, pemeliharaan hingga pemanenan.

Untuk sektor kesehatan, kebutuhan mencakup caregiver, caretaker dan tenaga perawatan lansia. Sedangkan pada sektor domestik, pekerjaan mulai diarahkan berdasarkan jabatan dan kompetensi seperti housekeeper, childcare, babysitter, family cook dan family driver.

Nurul menegaskan, perubahan tersebut menunjukkan pekerja migran kini semakin diarahkan sebagai tenaga profesional berdasarkan jabatan, bukan lagi sekadar dikategorikan sebagai pekerja formal atau informal.

“Sekarang sudah mengarah kepada jabatan. Housekeeper, caretaker, babysitter, childcare. Itu mengarah kepada jabatan. Jadi bukan lagi penata laksana rumah tangga, tetapi jabatan-jabatan yang sesuai dengan kompetensi,” jelasnya.

BACA JUGA:Kadin Jatim dan Swisscontact Siapkan Fasilitator JOA untuk Perkuat Kurikulum Berbasis Industri

Peluang pasar kerja global pun dinilai semakin terbuka. Jepang, misalnya, membutuhkan tenaga caregiver, sedangkan Jerman memiliki kebutuhan di sektor hospitality, termasuk cook dan bidang makanan. Sejumlah negara lain seperti Taiwan, Korea, Singapura, Malaysia, Brunei, Australia dan Turki juga menjadi pasar potensial.

Sumber:

Berita Terkait