Dulu Digendong Kini Mengantar Sesama, Langkah Pembuktian Abdul Azis Menembus Keterbatasan
Abdul Azis (28), jemput penumpang nya dengan sepeda motor Honda Vario modifikasi miliknya, --
JEMBER, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Di tengah riuk pikuk kendaraan yang memadati Jalan Hayam Wuruk, Kabupaten Jember, sosok pengemudi ojek online satu ini seketika menyita perhatian. Sebelum menyalakan mesin sepeda motor Honda Vario modifikasi miliknya, Abdul Azis (28) terlebih dahulu meletakkan sebuah papan skateboard di sampingnya.
Bagi Azis, papan beroda itu bukanlah mainan pelipur lara, melainkan "kaki" setia yang membantunya berpindah dari satu titik ke titik lain.
Tak lama berselang, gawai di genggamannya berdering nyaring menyuarakan pesanan masuk. Senyum hangat mengembang di wajahnya. Dengan terampil, Azis mengenakan helm dan mulai melaju menyusuri sudut-sudut Kota Jember.
Tak banyak yang tahu, beberapa tahun lalu pemuda asal Dusun Krajan, Desa Rambipuji, Kecamatan Rambipuji ini masih harus digendong keluarga setiap kali ingin berpindah tempat. Kini, berbekal tekad baja, ia justru menjadi sosok yang mengantarkan banyak orang sampai ke tujuan.
Bagi Azis, setiap kilometer yang ditempuhnya di jalanan bukan sekadar urusan mencari nafkah, melainkan bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah alasan untuk berhenti melangkah.
Lahir sebagai penyandang disabilitas daksa, Azis menjalani masa kecil yang penuh tantangan. Aktivitas fisik yang dianggap remeh oleh kebanyakan orang, baginya adalah perjuangan tersendiri.

Gempur Rokok Illegal--
Sebelum menemukan skateboard sebagai alat bantu mobilitas, ia sepenuhnya bergantung pada ulur tangan orang-orang terdekatnya.
"Dulu sebelum kenal dan pakai skateboard, ya ke mana-mana harus digendong," kenang Azis saat berbincang hangat dengan reporter Memorandum, Minggu 26 Juli 2026.
BACA JUGA:Wamenkes Puji Program Home Care Jember, Dorong Jadi Percontohan Nasional
Enggan terus-menerus menjadi beban, Azis mulai mencari jalan keluar. Pilihannya jatuh pada papan skateboard. Sejak saat itu, papan kayu beroda tersebut menjadi sahabat karibnya—menemaninya masuk ke warung, melangkah ke masjid, hingga menjalani rutinitas harian layaknya masyarakat umum.
Bahkan saat harus menaiki anak tangga, Azis menolak untuk dimanja. Ia memilih menaklukkannya sendiri menggunakan kekuatan kedua tangannya, sementara rekan-rekannya hanya membantu membawakan papan skateboard miliknya.
Sumber:





