Harga Sebuah Kebohongan (1): Uang Mengubah Seseorang Memandang Benar dan Salah
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga pertemuan dengan dua lelaki.--
Sore itu langit mulai memerah ketika Sinta meletakkan secangkir kopi di samping laptop suaminya. Ilham bahkan tidak menoleh. Matanya terpaku pada grafik yang terus menurun di layar. "Turun lagi..."
Suaranya lirih, tetapi cukup membuat Sinta menghentikan langkah. "Apa yang turun?" "View." Sinta tersenyum tipis. "Nanti juga naik lagi." Ilham menggeleng. "Kamu nggak ngerti." "Algoritma nggak pernah kasihan sama orang." Kalimat itu membuat Sinta terdiam.
Dulu lelaki yang dinikahinya selalu pulang membawa lelah setelah bekerja seharian. Kini yang ia bawa pulang hanyalah kegelisahan setiap kali angka penonton menurun.Sejak kanal media sosial mereka berkembang pesat, kehidupan berubah tanpa mereka sadari. Ruang tamu menjadi studio.
Meja makan berubah menjadi lokasi syuting. Bahkan obrolan sederhana pun harus direkam sebelum benar-benar dinikmati. Hidup mereka perlahan bukan lagi tentang menjalani hari. Tetapi tentang menciptakan tontonan. "Mas..."
Sinta duduk di samping suaminya. "Kalau memang lagi sepi, kita bikin konten lain saja."Ilham mengembuskan napas panjang. "Aku sudah coba semuanya." "Masak." "Challenge." "Review.""Vlog." "Semuanya biasa." "Lalu?". Ilham menutup laptopnya. Sorot matanya berubah. "Yang dicari orang sekarang bukan cerita." "Tapi drama." Sinta mengernyit. "Drama?" "Iya." "Semakin ribut." "Semakin banyak yang nonton."
BACA JUGA:Suamiku Tergoda Janda Kaya (6): Penyesalan Terlambat dan Karma Sang Lelaki Kufur

Gempur Rokok Illegal--
Sinta tertawa kecil. "Kita kan bukan artis sinetron." "Bikin saja." "Sedikit setting." "Orang juga nggak bakal tahu." Ucapan itu membuat hati Sinta mendadak tak nyaman. Ia mengenal Ilham sebagai lelaki yang jujur. Tetapi uang memang sering mengubah cara seseorang memandang benar dan salah. Di rumah itu tinggal seorang pemuda bernama Epu. Adik sepupu Ilham. Sudah hampir lima bulan ia menumpang sambil mencari pekerjaan. Epu bukan tipe yang banyak bicara.
Ia lebih senang memperbaiki apa pun yang rusak di rumah daripada ikut muncul di depan kamera. Justru karena itulah Ilham memandangnya sebagai "pemeran" yang sempurna. Sore berikutnya, saat Epu sedang menyiram tanaman, Ilham memanggil Sinta. "Aku sudah dapat ide." "Ide apa?" "Kita bikin konflik keluarga."
BACA JUGA:Suamiku Tergoda Janda Kaya (5): Air Mata Terakhir untuk Raga yang Hampa
Sinta memandang suaminya lekat-lekat. "Maksudmu?" "Kita buat seolah-olah Epu bikin masalah." "Lalu?" "Kita usir." Sinta terkejut. "Mas... jangan bercanda." "Aku serius." "Ini cuma akting." "Nggak ada yang dirugikan." "Tapi kalau Epu tersinggung?"
Ilham tersenyum. "Nanti aku jelaskan." "Dia pasti mau membantu." Sinta masih ragu. Namun di dalam rumah kecil itu, kebutuhan hidup terus mengetuk. Cicilan. Tagihan. Kontrak kerja sama yang mulai berkurang.
Semuanya seperti mendorongnya untuk menganggukkan kepala. Malam itu kamera dinyalakan. Lampu dipasang. Adegan dimulai. Ilham meninggikan suara. Sinta berpura-pura menangis. Dan Epu... berdiri kebingungan karena tak pernah diberi tahu bahwa dirinya telah dipilih menjadi tokoh jahat.
Video berdurasi enam menit itu diunggah sebelum tengah malam. Tak seorang pun menyangka... enam menit itulah yang kelak mengubah hidup mereka untuk selamanya. (atp/fer/bersambung)
Seluruh tokoh dan peristiwa dalam cerita ini adalah karya fiksi. Apabila terdapat kesamaan nama atau peristiwa, hal tersebut merupakan kebetulan semata.
Sumber:





