iklan bhayangkara
Pildun Banner

Terancam Diusir dari Kontrakan, Pria di Jember Ini Ratapi Nasib Tak Pernah Tersentuh Bansos

Terancam Diusir dari Kontrakan, Pria di Jember Ini Ratapi Nasib Tak Pernah Tersentuh Bansos

Kuswantoro Alias Pak Iwan (50), beserta keluarga.--

JEMBER, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Di balik hiruk-pikuk dan gemerlapnya pusat Kota JEMBER, terselip sebuah kisah pilu tentang perjuangan bertahan hidup yang nyaris tak masuk akal. Di sebuah rumah kontrakan sempit berukuran 5 x 5 meter di Lingkungan Sawahan, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates, Kuswantoro (50) harus menantang takdir yang teramat garis keras. Setiap hari, ia bergelut dengan kemiskinan ekstrem demi menghidupi istri, dua anak, dan ibu mertuanya yang terkulai lemah akibat stroke selama tiga tahun terakhir.

​Dinding-dinding lembap rumah kontrakan itu menjadi saksi bisu bagaimana lima nyawa harus berjejalan, sekaligus memikul beban hidup yang kian menghimpit. Belum kering air mata merawat sang ibu mertua, pria yang akrab disapa Pak Iwan ini juga harus mendampingi istrinya, Puji Rahayu Maulidiyah (44), yang tengah berjuang pulih pasca-operasi kanker payudara.

BACA JUGA:Gus Fawait Tegaskan Penanganan Kemiskinan di Jember Butuh Gotong Royong


Mini Kidi Wipes.--

​Kini, bom waktu yang paling menakutkan bagi Pak Iwan bukanlah sekadar perut yang lapar, melainkan ancaman kehilangan tempat bernaung. Sudah empat bulan lamanya ia tak mampu membayar uang sewa kontrakan.

​"Yang paling saya butuhkan sekarang biaya untuk bayar kontrakan. Sudah empat bulan menunggak. Pemilik rumah juga sudah sering menanyakan kapan saya bisa membayar," tutur Pak Iwan dengan suara lirih dan tatapan kosong saat ditemui di kediamannya, Rabu 8 Juli 2026.

BACA JUGA:Gus Fawait Lantik 734 Kepala Sekolah di Jember, Ajak Perangi Kemiskinan

​Harapan sempat membubung tinggi saat Pak Iwan mendengar gaung layanan pengaduan Wadul Gus'e. Ia mengira program andalan pemerintah daerah itu bisa menjadi dewa penolong bagi jerat ekonomi yang mencekiknya. Namun, kenyataan justru berbuah pahit. Laporannya dimentahkan dan dikategorikan sebagai "persoalan pribadi". Ia sempat dilempar ke dinas terkait, namun hingga kini, bantuan yang dinanti hanya menjadi teka-teki yang tak kunjung terjawab.

​"Saya cuma ingin ada bantuan untuk meringankan biaya kontrakan. Kalau kontrakan bisa terbayar, uang yang nanti saya dapat bisa dipakai buat modal usaha lagi," ujarnya penuh harap.

​Sebelum badai pandemi Covid-19 menghantam, roda ekonomi Pak Iwan sempat berputar. Ia bekerja sebagai sopir sekaligus mengais rezeki dari berjualan telur gulung di pinggir jalan.

BACA JUGA:Kisah di Balik Verval Kemiskinan Jember, Antara Peluh Guru Menembus Gunung dan Temuan Lansia yang Terlupakan

​Namun, pandemi mengubah segalanya menjadi abu. Dagangannya gulung tikar, dan panggilan menyetir tak kunjung datang. Kini, demi menyambung nyawa keluarganya, Pak Iwan terpaksa melakoni pekerjaan serabutan apa saja, mulai dari mencuci mobil hingga membersihkan kendaraan milik tetangga.

​"Kadang dapat Rp10 ribu, kadang Rp15 ribu. Yang penting ada uang buat makan hari itu," katanya dengan nada getir.

​Enggan menyerah pada nasib, ia mencoba memutar otak dengan berjualan kerupuk, es, dan kopi di depan kontrakan. Modal usahanya pun bukan sejumput dana jaminan sosial dari pemerintah, melainkan uluran tangan sang kakak yang melimpahkan uang Rp60 ribu.

Sumber:

Berita Terkait