iklan bhayangkara
Pildun Banner

Dekadesasi Mempertahankan Kuliner Tradisional di Pasar Tawangmangu

Dekadesasi Mempertahankan Kuliner Tradisional di Pasar Tawangmangu

Ginanjar Rahayu, Deby Andreyani, Salsya Octa--

Oleh:

Ginanjar Rahayu, Deby Andreyani, Salsya Octa

(Sosiologi, FISIP, UMM)

Perkembangan teknologi dan modernisasi telah mengubah berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk pola perdagangan dan konsumsi. Kebutuhan sehari-hari kini lebih mudah diperoleh melalui minimarket, supermarket, maupun layanan digital. Perubahan tersebut berdampak pada menurunnya eksistensi pasar tradisional yang selama ini menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

Salah satu pasar yang mengalami perubahan adalah Pasar Tawangmangu di Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Aktivitas perdagangan yang dahulu ramai perlahan mengalami penurunan akibat perubahan gaya hidup masyarakat dan berkembangnya sistem perdagangan modern.

Di tengah kondisi tersebut, masih terdapat pedagang yang mampu mempertahankan usahanya, yaitu Bu Slamet, pedagang kuliner tradisional berusia 81 tahun yang telah berjualan selama kurang lebih lima dekade. Sejak awal berdagang hingga sekarang, lapaknya tidak pernah berpindah tempat.


Bu Slamet (81 tahun) di lapak kuliner tradisional Pasar Tawangmangu yang telah dipertahankan selama kurang lebih lima dekade.--

Penelitian ini menggunakan Teori Modal Sosial Pierre Bourdieu yang menyatakan bahwa modal sosial merupakan sumber daya yang diperoleh melalui hubungan sosial, jaringan, kepercayaan, dan pengakuan dalam masyarakat. Dalam penelitian ini, modal sosial terlihat dari hubungan baik Bu Slamet dengan pelanggan, kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun, loyalitas pembeli, serta reputasi usaha yang menjadi faktor penting dalam mempertahankan usahanya.

Selama lima dekade berjualan, Bu Slamet tetap mempertahankan lapaknya meskipun banyak pedagang lain berpindah tempat, berganti usaha, atau berhenti berdagang. Pada dekade pertama, Pasar Tawangmangu masih menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat dengan jumlah pembeli yang ramai. Bu Slamet mulai merintis usaha kuliner tradisional dengan menjual berbagai camilan seperti cenil, wajik, lemper, dan makanan tradisional lainnya.

BACA JUGA:Berusia 10 Tahun, Persada UB Diskusikan Ratusan Artikel Karya Dosen


Mini Kidi Wipes.--

Pada dekade kedua, kualitas makanan yang dijual mulai dikenal masyarakat sehingga tercipta hubungan yang kuat antara pedagang dan pelanggan. Kepercayaan dan loyalitas pelanggan menjadi modal sosial yang mendukung keberlangsungan usaha.

Memasuki dekade ketiga, kondisi pasar mulai mengalami perubahan. Banyak pedagang berpindah lokasi maupun berganti jenis usaha, sedangkan Bu Slamet tetap bertahan di tempat yang sama. Untuk menyesuaikan kebutuhan pasar, beliau melakukan inovasi dengan menjual lauk siap makan seperti urap, sayur lodeh, dan ikan goreng.

Pada dekade keempat, munculnya pusat perbelanjaan modern mengurangi jumlah pembeli di pasar tradisional. Meskipun demikian, Bu Slamet tetap mampu mempertahankan usahanya dengan mengandalkan pelanggan setia yang telah mengenal kualitas produknya.

BACA JUGA:Obat Bukan Barang Biasa: Ketika Kemudahan Akses Bertemu Kompleksitas Terapi


Gempur Rokok Illegal--

Memasuki dekade kelima, perkembangan teknologi digital, layanan belanja daring, dan pandemi Covid-19 menjadi tantangan besar karena jumlah pembeli semakin berkurang. Namun, Bu Slamet tetap berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mempertahankan usahanya.

Sumber: