iklan bhayangkara
Pildun Banner

Antara Cinta dan Harta (1): Ketika Cinta Ditimbang di Atas Kemilau Harta

Antara Cinta dan Harta (1): Ketika Cinta Ditimbang di Atas Kemilau Harta

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga ketika gerimis di gedung.--

Gerimis senja itu seolah ikut mengiringi debar jantung Bintang. Di sebuah sudut kota Surabaya, di dalam gedung perkantoran, cinta mereka bersemi. Empat tahun lamanya Bintang dan Bulan merajut kasih, menganyam benang-benang asmara dengan keyakinan mulia: bahwa kekuatan cinta mampu meruntuhkan segala badai kehidupan.

Namun, alangkah naifnya jiwa yang sedang dimabuk cinta. Mereka lupa bahwa pernikahan bukanlah sekadar penyatuan dua hati yang kasmaran, melainkan benturan dua keluarga dengan kasta batin yang berbeda. Ketika Bintang memberanikan diri mengetuk pintu rumah Bulan untuk meminang, kehangatan hanya mengalir dari tutur kata ayah Bulan. 

Di sudut ruang tamu itu, sepasang mata perempuan paruh baya menatapnya dengan dingin, setajam sembilu. Ibu Bulan. Perempuan itu tak mampu atau lebih tepatnya tak sud menyembunyikan keangkuhan yang bersemayam di dadanya.

"Bintang, apa pekerjaanmu?" kalimat itu meluncur tanpa basa-basi, memutus keheningan malam. "Manajer operasional, Bu," jawab Bintang, berusaha mengulum senyum paling sopan. "Lalu... berapa rupiah yang kau bawa pulang setiap bulannya?"tanyanya lagi.

BACA JUGA:Kisah Cinta yang Tertinggal di Tanah Rantau (4): Titik Jenuh Hati yang Terluka


Mini Kidi Wipes.--

Seketika itu juga, udara di ruang tamu mendadak membeku. Ada rasa perih yang mengiris harga diri Bintang sebagai seorang lelaki. Ia tetap menjawab dengan nada rendah, penuh takzim. 

Namun sejak detik itu, Bintang tahu, dirinya tidak sedang dinilai dari ketulusan hatinya, bukan pula dari tanggung jawab akhlaknya. Ia sedang ditimbang di atas neraca materi. Nilai dirinya hanya sebatas angka-angka di atas lembaran slip gaji.

Bintang membisikkan janji pada takdir. Ia bersumpah akan membuktikan kepada sang ibu mertua bahwa mahligai kebahagiaan tidak melulu dibangun dari kemilau harta benda. Tahun-tahun pertama laksana madu yang merekah indah. Mereka hidup dalam kesederhanaan yang syahdu. Menyisihkan sepeser demi sepeser uang untuk mencicil sebuah rumah mungil, istana kecil tempat mereka memadu kasih. 

Lambat laun, dewi malam mulai tersenyum pada perjuangan Bintang. Usaha yang dirintisnya membuahkan hasil. Pundi-pundi rupiah mengalir lebih deras, membawa setitik kemakmuran dalam rumah tangga mereka.

BACA JUGA:Kisah Cinta yang Tertinggal di Tanah Rantau (5): Penyesalan di Ujung Sebuah Ambisi


Gempur Rokok Illegal--

Namun, seiring dengan meningkatnya taraf hidup mereka, berubah pula tabiat ibu Bulan. Telepon genggam Bulan kini lebih sering berdering, membawa suara yang tak lagi sehangat dulu, melainkan rentetan tuntutan yang menguras batin.

"Bulan, Ibu sedang kesulitan uang...". "Bintang kan baru mendapat bonus besar, apa salahnya berbagi?". "Adikmu ingin membuka usaha, Bulan...". "Atap rumah Ibu sudah rapuh, butuh renovasi segera."

Sumber:

Berita Terkait