iklan bhayangkara
Pildun Banner

Antara Cinta dan Harta (2): Badai Rumah Tangga di Tangan Mertua

Antara Cinta dan Harta (2): Badai Rumah Tangga di Tangan Mertua

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga soal mertua yang ikut campur.--

Guratan lelah membekas di wajah Bintang. Di saat ia mendambakan ketenangan, sosok ibu Bulan kembali hadir bagai bayang-bayang kelam.

"Bintang, ada hal penting yang ingin Ibu bicarakan," ujar sang mertua, nadanya menuntut. "Ada apa, Bu?"tanya Bintang. "Adik Bulan dapat peluang untuk membeli ruko. Sayang kalau dilepas."ujar mertuanya.

"Alhamdulillah kalau begitu, Bu." Bintang memaksakan seulas senyum pudar. "Ibu berharap, kamu yang bantu uang mukanya."ucap mertuanya.

Deg. Jantung Bintang bagai dihantam gada besi. Kalimat itu merenggut sisa-sisa kesabarannya.  "Mohon maaf, Bu. Tabungan kami baru saja terkuras habis untuk melunasi rumah ini."tegas Bulan.

Seketika itu juga, gumpalan mendung hitam pekat menggelayuti wajah ibu Bulan. Tatapannya berubah menjadi sinis dan penuh kebencian. "Kau sudah jadi orang sukses sekarang, masa dengan keluarga sendiri kau penuh perhitungan?!"ucap Mertuanya.

BACA JUGA:Rahasia di Buku Nikah (6): Membasuh Luka, Merajut Asa


Mini Kidi Wipes.--

Ruangan itu mendadak senyap, menyisakan gema kalimat yang menusuk kalbu. Bintang mengalihkan pandangannya pada Bulan, wanita yang telah bersumpah setia dengannya. Ia berharap sepasang mata indah istrinya itu akan memancarkan pembelaan atau setidaknya pengertian atas beban yang dipikulnya.

Namun, harapannya lumat. Bulan justru menunduk dalam-dalam, menatap lantai dengan air mata yang mulai mengenang, lalu berbisik lirih. "Mas... jika memang masih ada simpanan, apakah tidak bisa kita bantu...?"ucap Bulan.

Kalimat lirih itu melesat bagai anak panah yang merobek dada Bintang hingga berdarah. Bukan karena nominal uang yang diminta, melainkan karena kenyataan pahit yang harus ia telan: di dalam rumahnya sendiri, di hadapan badai ini, ia berdiri seorang diri. Tanpa pembelaan dari wanita yang dicintainya.

Perjalanan pulang malam itu diselimuti keheningan yang mencekam. Deru mesin mobil tak mampu mengusir kesunyian yang membeku di antara mereka. Bintang mencengkeram kemudi dengan jari-jari yang memutih, menahan gejolak rasa kecewa yang bergemuruh di dada.

Sampai akhirnya, dengan suara yang berat dan bergetar, Bintang memecah kesunyian. "Bulan..."ucap Bintang. "Iya, Mas...?" sahut Bulan, nyaris tak terdengar di antara isak yang tertahan.

"Jika suatu hari nanti, takdir memaksaku untuk memilih..." Bintang menjeda kalimatnya. Dadanya terasa sesak, seolah pasokan udara di sekitarnya menguap. "Memilih apa, Mas?" Bulan menoleh, menatap suaminya dengan mata yang sembap.

BACA JUGA:Rahasia di Buku Nikah (5): Sandiwara Tak Lagi Mampu Melindungi


Gempur Rokok Illegal--

Bintang mempererat genggamannya pada setir, mencoba mencari kekuatan yang kian terkikis. "Antara membahagiakan dirimu dan masa depan kita... atau menuruti segala pemerasan berkedok nafsu dari keluargamu..." Bintang menghela napas panjang, menatap lurus ke arah jalanan malam yang kelam. "Di samping siapakah kau akan berdiri, Bulan?"tanya Bintang.

Bulan terpaku. Bibirnya mengatup rapat, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya memalingkan wajah, menatap keluar jendela, menembus kegelapan malam yang tak berujung.

Dan kebisuan Bulan malam itu... menjadi goresan luka pertama yang meretakkan fondasi istana cinta yang telah mereka bangun dengan air mata dan peluh. Badai besar kini telah benar-benar datang, siap meruntuhkan segalanya. (atp/rdh/fer/bersambung)

Sumber:

Berita Terkait