iklan bhayangkara
Pildun Banner

Bekal Pulang Haji Bukan Akhir Ibadah, Melainkan Awal Perubahan Diri

Bekal Pulang Haji Bukan Akhir Ibadah, Melainkan Awal Perubahan Diri

H Ahmad Bajuri mengajak jemaah menjaga kemabruran haji melalui perubahan diri.--

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Musim haji telah usai dan jemaah Indonesia mulai kembali ke tanah air dengan membawa pengalaman spiritual yang mendalam. Namun, perjalanan spiritual sesungguhnya justru dimulai setelah kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.

Pergi haji membutuhkan perjuangan besar, mulai dari menunggu antrean bertahun-tahun, menabung dari hasil kerja keras, hingga meninggalkan keluarga selama lebih dari 40 hari.

Karena itu, seluruh pengorbanan tersebut tidak boleh berhenti sebagai kenangan semata, melainkan harus diwujudkan dalam perubahan perilaku dan peningkatan kualitas kehidupan sehari-hari.

Ketua Forum Komunikasi Penyelenggara Umrah dan Haji (FK Patuh) Jawa Timur, H Ahmad Bajuri menjelaskan bahwa kemabruran haji bukanlah gelar prestise ataupun status sosial.

Menurutnya, ukuran kemabruran terletak pada perubahan akhlak, peningkatan ibadah, serta manfaat yang dirasakan orang-orang di sekitar jamaah setelah kembali dari Tanah Suci.

Setidaknya terdapat lima bekal utama yang perlu dijaga oleh setiap jemaah haji setelah kembali ke tanah air.

BACA JUGA:Suasana Haru Warnai Kedatangan Haji Situbondo, Satu Jemaah Lansia Wafat Setelah Turun Bus


Mini Kidi Wipes.--

Pertama, menjaga istiqamah dalam ibadah. Semangat menjalankan salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan melaksanakan ibadah sunnah yang telah dibangun selama berada di Makkah dan Madinah perlu terus dipertahankan.

Kedua, menjaga akhlak dan kesabaran. Nilai kesabaran yang diperoleh selama menjalankan ibadah haji hendaknya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap yang santun, rendah hati, mudah memaafkan, dan tidak mudah marah.

Ketiga, menjaga lisan. Ucapan yang baik dan menyejukkan harus terus dijaga dengan menghindari ghibah, fitnah, maupun perkataan yang dapat menyakiti orang lain.

Keempat, meningkatkan kepedulian sosial. Semangat saling membantu yang dirasakan selama berada di Tanah Suci hendaknya terus dihidupkan melalui kepedulian kepada tetangga, keluarga, dan masyarakat yang membutuhkan bantuan.

Kelima, menjadi teladan di lingkungan sekitar. Seorang haji diharapkan mampu menghadirkan keteduhan, mempererat persaudaraan, serta menginspirasi masyarakat untuk semakin dekat kepada Allah SWT.

BACA JUGA:Di Era Prabowo, Jemaah Haji Reguler Bisa Menginap di Hotel Bintang Lima, Konsumsi pun Variatif


Gempur Rokok Illegal--

Menurut Ahmad Bajuri, esensi ibadah haji bukan hanya perjalanan menuju Makkah dan Madinah, melainkan perjalanan menuju transformasi diri yang lebih baik.

Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar bukan saat menjalankan ibadah haji, melainkan mempertahankan kemabruran secara konsisten sepanjang kehidupan.

Oleh karena itu, jemaah haji diharapkan tidak hanya membawa pulang oleh-oleh dan gelar haji, tetapi juga membawa perubahan nyata berupa hati yang lebih bersih, ibadah yang lebih istiqamah, akhlak yang lebih mulia, serta kepedulian yang lebih besar kepada sesama.

Jika setelah pulang haji seseorang menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih dermawan, dan lebih menenangkan bagi lingkungannya, maka itulah gambaran kemabruran yang sesungguhnya. 

Sumber: