Menuju ultah ke-8 memorandum.co.id
HJKS Banner
SFF 20266

Gegara LC Ketenangan Rumah Tangga Terusik (4): Di Ambang Pintu Perpisahan

Gegara LC Ketenangan Rumah Tangga Terusik (4):  Di Ambang Pintu Perpisahan

Ilustrasu sejuta kisah rumah tangga tentang perpisahan.--

Pagi itu Bintang berangkat lebih awal dari biasanya. Ia terlihat terburu-buru karena ada pertemuan penting dengan klien. Sepuluh menit setelah mobilnya pergi, ponselnya berdering di atas meja ruang makan.

Bintang tertinggal ponselnya. Bulan sempat ragu untuk menyentuhnya. Selama belasan tahun menikah, ia tidak pernah membuka ponsel suaminya tanpa izin. Tetapi telepon itu terus berdering. Nama yang muncul membuat jantungnya berdegup lebih cepat. “Ayu LC” Panggilan itu berhenti.

Beberapa detik kemudian muncul pesan. “Mas, semalam aku senang banget. Hati-hati ya, nanti malam kabari lagi.”

Dunianya seakan berhenti berputar. Tangan Bulan mendadak dingin. Napasnya terasa berat. Ia membaca pesan itu berulang kali, berharap ada makna lain yang bisa menjelaskan semuanya. Tetapi tidak ada.

BACA JUGA:Gegara LC Ketenangan Rumah Tangga Terusik (3): Bukan karena Menemukan Perempuan Lain


Mini Kidi Wipes.--

Pesan itu terlalu jelas. Terlalu akrab. Terlalu dekat untuk sekadar hubungan antara pelanggan dan seorang LC. Air mata mulai menggenang. Namun anehnya, Bulan tidak menangis. Ia justru merasa kosong. Sangat kosong.

Seolah semua rasa sakit yang selama ini ia takutkan akhirnya berdiri tepat di hadapannya. Siang harinya Bintang pulang mengambil ponselnya yang tertinggal. Saat masuk rumah, ia langsung melihat Bulan duduk sendirian di ruang tamu.

Wajah perempuan itu terlihat tenang. Terlalu tenang. “Ponselku ketinggalan ya?” tanya Bintang. Bulan mengangguk. “Ada yang telepon.”ucap Bulan. Bintang langsung terdiam. “Siapa?”tanya Bintang.

BACA JUGA:Gegara LC Ketenangan Rumah Tangga Terusik (2): Kerah Kemeja Suami Ada Bekas Lipstik


Gempur Rokok Illegal--

Bulan menatap suaminya lama sekali. “Ayu.”jawab Bulan. Wajah Bintang berubah. Perubahan kecil yang selama ini selalu dicari Bulan. Dan hari itu akhirnya ia menemukannya. “Mas…” Suara Bulan sangat pelan. “Sekarang jangan bohong lagi.”ucap Bulan.

Ruangan mendadak sunyi. Tidak ada bentakan. Tidak ada kemarahan. Justru ketenangan Bulan membuat suasana terasa jauh lebih berat. “Dia siapa?”tanya Bulan. Bintang menghela napas panjang. “Cuma teman.”

Bulan tersenyum kecil. Senyum yang lebih menyakitkan daripada tangisan. “Masih mau bilang cuma teman?” Tidak ada jawaban. Untuk pertama kalinya sejak semua kecurigaan ini muncul, Bintang kehabisan alasan. (atp/rdh/fer/bersambung)

Sumber:

Berita Terkait