Bahasa Hilang, Tubuh Terluka
Fatkhul Aziz--
Pagi buta di Sencaki, atau mungkin senja yang lelah di Pragoto, maut seringkali datang tanpa basa-basi retoris. Kita membaca pemberitaan Memorandum belakangan ini seperti membaca sebuah peta luka yang arsirannya kian tebal. Ada orang tua yang rebah bersimbah darah di Simokerto, ada tubuh yang kaku di Wonokusumo, dan ada kesunyian yang pecah oleh jerit di Sidotopo hingga Mojokerto.
Seolah-olah, di antara gang-gang sempit itu, kata-kata telah kehilangan daya. Di sana, argumen tak lagi punya ruang untuk bernapas. Ketika saluran komunikasi mampet, ketika lidah kelu oleh tekanan hidup yang menghimpit, maka tangan—yang membawa celurit atau yang melilitkan tali—menjadi juru bicara yang paling akhir.
BACA JUGA:Keringat dan Algoritma

Mini Kidi Wipes.--
Kenapa kekerasan, baik kepada liyan maupun kepada diri sendiri, seakan menjadi satu-satunya pintu keluar yang tersisa?
Kita melihat di Menanggal atau Pacet, juga di Gresik, ada orang-orang yang memilih untuk menghentikan detak jantungnya sendiri. Dalam laporan-laporan itu, kita sering menemukan kata "depresi" atau "tekanan ekonomi" sebagai catatan kaki. Namun, ada yang lebih mendalam dari sekadar statistik: sebuah kebuntuan ekspresif.
BACA JUGA:Joki dan Berhala Gelar
Dunia kita hari ini mungkin terlalu bising, tapi anehnya, tak banyak yang benar-benar mendengar. Saat seseorang merasa tak lagi punya kanal untuk menyampaikan kegelisahan, keberatan, atau rasa sakitnya, bahasa akan menyusut menjadi aksi.
Adu fisik yang lebih dominan daripada adu argumen mencerminkan sebuah masyarakat yang kehilangan kesabaran untuk mengerti. Menjelaskan sesuatu membutuhkan energi intelektual dan emosional yang besar. Membacok atau melukai diri sendiri hanya butuh satu momentum kemarahan atau keputusasaan yang meluap.
Apakah saluran yang manusiawi telah tertutup?
BACA JUGA:Bangku yang Menjauh
Mungkin tidak sepenuhnya tertutup, namun barangkali ia menjadi terlalu mewah bagi mereka yang hidup di pinggiran nasib. Dialog memerlukan posisi yang setara, rasa aman, dan kepercayaan bahwa suara kita akan mengubah sesuatu. Ketika kepercayaan itu lumat oleh ketidakpastian hidup, manusia kembali ke insting yang paling purba: menyerang atau menyerah.

Gempur Rokok Ilegal. Ini Ciri-ciri rokok Ilegal.--
Kita merindukan sebuah ruang di mana manusia bisa saling bicara tanpa merasa perlu saling meniadakan. Namun, selama "bahasa" hanya dianggap sebagai urusan kelas atas dan birokrasi, maka di jalanan Sencaki atau kesunyian Menanggal, darah akan terus menjadi tinta yang menuliskan keluh kesah yang tak tersampaikan.
Sumber:









