Abaikan Keluhan Warga dan Perizinan, Proyek Gedung di Basuki Rahmat Tetap Ngebor hingga Dini Hari
Aktifitas pengeboran untuk pengecoran tiang pancang di proyek pembangunan gedung perkantoran di Jalan Jenderal Basuki Rahmat nomor 165-167.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Proyek pembangunan gedung perkantoran di Jalan Jenderal Basuki Rahmat nomor 165-167, Kelurahan Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, menuai protes keras dari warga sekitar.
Proyek milik PT Wulandaya Cahaya Lestari tersebut dituding mengabaikan kenyamanan warga dan diduga tetap beraktivitas meski belum mengantongi izin lengkap
BACA JUGA:Ketua RW Kupang Segunting Surabaya Keluhkan Kesulitan Pindah KK Akibat Pembatasan Alamat

Mini Kidi Wipes.--
Fendi Tahjudin, salah seorang warga yang terdampak, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pihak pelaksana proyek.
Ia merasa pihak pengembang tidak memiliki etika bertetangga atau kulo nuwun kepada warga sekitar sejak proyek dimulai sekitar Februari lalu.
BACA JUGA:Pengusaha Truk Surabaya Keluhkan Barcode Solar Subsidi Tak Bisa Digunakan
"Kami ini bertetangga, tapi proyek sebesar itu kok tidak pamit. Tiba-tiba sudah ada suara gaduh tong-dang-tong-dang. Kesannya tidak ngajeni sesama tetangga," keluh Fendi saat ditemui Memorandum di rumahnya di RT 01/RW 01, Keputran, Kecamatan Tegalsari pada Sabtu 2 Mei 2026 sore.
Keluhan utama warga adalah jam operasional yang dianggap tidak manusiawi. Menurut Fendi, pengerjaan proyek sering kali dimulai pukul 08.00 WIB dan terus berlanjut hingga pukul 01.00 atau 03.00 dini hari.
"Saya minta kerja yang normal saja. Mau pejabat atau rakyat biasa pun butuh istirahat. Kalau kami dihajar suara berisik sampai subuh terus, kapan kami istirahatnya? Bahkan hari Minggu yang seharusnya waktu libur, mereka tetap kerja," cetusnya.
BACA JUGA:Warga Karangpakis Jombang Keluhkan Bau Menyengat Pabrik Pengolahan Bulu Ayam dan Truk Besar
Selain kebisingan, Fendi yang rumahnya berjarak kurang lebih 10 meter dari proyek tersebut juga menyoroti polusi debu dan lalu lalang truk molen.
"Saat proses pengecoran, getaran dan suara dengungan mesin itu terasa sampai ke dalam rumah," tambahnya.
Warga juga mempertanyakan efektivitas stiker pelanggaran yang terpasang di lokasi, namun tidak menghentikan aktivitas di lapangan.
Sumber:








