Hari Buruh di Mata Gen Z, antara Idealitas dan Realita Dunia Kerja
Gen Z memiliki pandangan yang cukup berbeda terhadap dunia kerja yakni keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan (work-life balance).(Sumber freepik)--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang jatuh setiap 1 Mei kini tidak hanya dipahami sebagai simbol perjuangan pekerja di masa lalu.
Bagi generasi muda, khususnya Gen Z, makna Hari Buruh mengalami pergeseran menjadi harapan yang ideal terhadap dunia kerja dan realita kehidupan di era sekarang.
BACA JUGA:Polresta Sidoarjo Siapkan 1.200 Personel Pengamanan Hari Buruh 2026

Mini Kidi Wipes.--
Sejarah Hari Buruh sendiri berakar dari peristiwa mogok kerja masal di Chicago, Amerika Serikat, yang memperjuangkan jam kerja manusiawi. Namun, kini tantangan yang dihadapi pekerja justru semakin beragam, terutama bagi generasi yang lahir dan tumbuh di era digital.
Sebagai generasi yang tumbuh di era digital, Gen Z memiliki pandangan yang cukup berbeda terhadap dunia kerja. Mereka menginginkan fleksibilitas waktu, keseimbangan antara kehidupan dan kerja (work-life balance), serta lingkungan kerja yang inklusif dan suportif. Selain itu, banyak dari mereka juga telah berani menyuarakan isu kesehatan mental dan menolak budaya kerja yang dianggap toxic.
BACA JUGA:Disnakertrans Jatim Antisipasi May Day 2026, Isu Outsourcing dan Upah Kembali Menguat
idealitas tersebut kerap berbenturan dengan realita di lapangan. Sistem kerja kontrak, upah yang belum stabil, serta tingginya persaingan membuat sebagian Gen Z harus berkompromi dengan realita. Tidak sedikit pula yang terjebak dalam fenomena overwork demi mempertahankan pekerjaan.
Perkembangan teknologi juga turut melahirkan jenis pekerjaan baru seperti freelancer, konten creator, affiliator, dan pekerja di sektor gig economy, yang cukup diminati oleh Gen Z. Meski menawarkan kebebasan, jenis pekerjaan ini sering kali tidak disertai dengan jaminan sosial yang memadai seperti perlindungan kesehatan atau penghasilan yang pasti setiap bulan dan harinya.

Ayo bolo kita gempur rokok ilegal.--
Pengamat sosial menilai bahwa suara Gen Z berpotensi membawa perubahan dalam dunia kerja. Dengan keberanian mereka dalam menyuarakan hak termasuk melalui media sosial, tekanan terhadap perusahaan dan pemerintah untuk menciptakan sistem kerja yang lebih baik semakin meningkat.
Dengan demikian, diperlukan keseimbangan antara idealisme dan realitas agar generasi muda tidak hanya pandai mengkritik tetapi juga bagian dari solusi dalam membangun ekosistem kerja yang lebih baik.
Sumber:








