Waspada El Nino, Disperta Jombang Siapkan Strategi Antisipasi Kekeringan
Disperta Jombang saat sosialisasi persiapan menghadapi elnino 2026--
JOMBANG, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Jombang mulai mewaspadai potensi kekeringan pada musim kemarau 2026. Hal ini menyusul prediksi terjadinya fenomena El Nino yang berpotensi menurunkan curah hujan secara signifikan dan berdampak pada sektor Pertanian, khususnya tanaman padi.
BACA JUGA:Serapan Beras Bulog Jatim Pecah Rekor di Tengah Ancaman El Nino

Mini Kidi Wipes.--
Kepala Dinas Pertanian Jombang M. Rony melalui Kabid Perlindungan Pascapanen dan Pemasaran Hasil Pertanian Ahmad Jani Masyhudi menjelaskan, berdasarkan prakiraan BMKG, El Nino 2026 diperkirakan terjadi pada pertengahan tahun dengan intensitas lemah. Meski demikian, dampaknya tetap perlu diantisipasi sejak dini.
“Curah hujan diprediksi turun antara 20 sampai 40 persen. Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga September 2026, sehingga berpotensi mengganggu musim tanam kedua dan ketiga,” ujarnya.
BACA JUGA:Waspadai Potensi El Nino 2026, BMKG: Kemarau Diprediksi Jauh Lebih Kering

Gempur Rokok Ilegal. Laporkan Peredaran Rokok Ilegal ke Kantor Bea Cukai Malang.--
Ia merinci, tanaman padi di Jombang umumnya dibudidayakan dalam tiga musim tanam. Yakni musim hujan (November–Maret), kemarau pertama (April–Juli), dan kemarau kedua (Agustus–Oktober). Kondisi El Nino dipastikan paling berdampak pada musim tanam kedua dan ketiga.
Selain faktor iklim, potensi kekeringan juga dipicu oleh sejumlah pekerjaan infrastruktur irigasi. Di antaranya rehabilitasi Dam Jatimlerek di Kecamatan Plandaan serta perbaikan saluran irigasi Mrican Kanan yang dijadwalkan berlangsung Agustus–September 2026.
“Untuk wilayah yang terdampak rehabilitasi irigasi, kami rekomendasikan agar petani tidak menanam padi pada musim tanam ketiga,” tegasnya.
BACA JUGA:Waspada “Godzilla El Nino”, BBKSDA Jatim Petakan Tiga Kawasan Rawan Karhutla
Wilayah yang berpotensi terdampak di antaranya Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Megaluh, sebagian Tembelang, Peterongan, hingga Kesamben. Selain itu, daerah irigasi Siman yang melayani ribuan hektare lahan di 12 kecamatan juga masuk dalam perhatian karena ketergantungan tinggi terhadap pasokan air.
Belajar dari kejadian tahun sebelumnya, Ahmad Jani menyebut kekeringan sempat melanda sejumlah wilayah seperti Sumobito, Peterongan, Perak, hingga Gudo pada musim kemarau. Bahkan, sebagian lahan mengalami puso atau gagal panen.
BACA JUGA:Antisipasi 'Godzilla El Nino', BPBD Jatim Siapkan Gudang Logistik Modern Berbasis Digital
Sumber:







