new idulfitri

Surabaya Perketat Akses Kerja, Tenaga Kerja Urbanisasi Kian Tersisih?

Surabaya Perketat Akses Kerja, Tenaga Kerja Urbanisasi Kian Tersisih?

Kepala Disnaker Surabaya, Agus Hebi Djuniantoro, tegaskan dengan adanya SE Wali Kota terkait urbanisasi bertujuan agar peluang kerja lebih terarah dan tepat sasaran. --

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Fenomena urbanisasi ke Surabaya dalam lima tahun terakhir menunjukkan dinamika yang menarik. Kota terbesar kedua di Indonesia ini masih jadi magnet bagi para pendatang, tapi trennya kini tak lagi sesederhana "datang dan menetap".

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Surabaya pada 2025 mencapai 3.003.860 jiwa. Dengan luas wilayah sekitar 334,50 km², tingkat kepadatan menyentuh 8.995 jiwa per km². Angka ini menegaskan betapa padatnya kota ini, sekaligus memberi tekanan besar pada ruang dan infrastruktur perkotaan.

BACA JUGA:Sosiolog Unesa Ingatkan Pemkot Surabaya Tak Antipati Hadapi Urbanisasi Pasca Lebaran


Mini Kidi Wipes.--

Di awal periode, arus urbanisasi sempat melonjak tajam. Pada 2021, pendatang tercatat sebanyak 34.933 jiwa. Angka itu hampir dua kali lipat pada 2022 menjadi 77.068 jiwa, bahkan mencapai puncaknya di 2023 dengan 77.091 jiwa.

Lonjakan ini memperlihatkan kuatnya daya tarik Surabaya sebagai pusat ekonomi, perdagangan, dan jasa di Jawa Timur. Peluang kerja, fasilitas kota, hingga geliat industri menjadi alasan utama orang berbondong-bondong datang.


Gempur Rokok Ilegal -----

Namun, setelah puncak tersebut, tren mulai berubah. Pada 2024 jumlah pendatang turun menjadi 56.440 jiwa, dan kembali menurun di 2025 menjadi 54.098 jiwa. Penurunan ini diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari tingginya biaya hidup hingga mulai jenuhnya daya tampung kota.

BACA JUGA:DPRD Jatim Ingatkan Pemprov, Urbanisasi Pascalebaran Menjadi Ancaman bagi Kota Besar

Menariknya, di saat jumlah pendatang menurun, arus keluar penduduk justru lebih tinggi. Pada 2023 misalnya, jumlah warga yang pindah keluar mencapai 82.382 jiwa, ini lebih banyak dibanding yang datang. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran ke arah counter-urbanization, di mana masyarakat mulai memilih tinggal di wilayah penyangga atau kota satelit.

Secara wilayah, urbanisasi di Surabaya juga tidak merata. Kecamatan seperti Wonokromo, Tambaksari, dan Rungkut menjadi titik favorit pendatang karena akses ekonomi, industri, dan infrastruktur yang lebih baik dibanding kawasan lain.

Kondisi ini mencerminkan perubahan pola urbanisasi di kawasan metropolitan. Surabaya kini tidak hanya menjadi tujuan akhir, tetapi juga bagian dari sistem perkotaan yang lebih luas atau urban agglomeration, di mana interaksi dengan wilayah sekitar semakin kuat.

BACA JUGA:Kendalikan Urbanisasi, Pemkot Surabaya Terbitkan SE Pemantauan Penduduk Pasca-Lebaran

Namun, Pemerintah Kota (Pemkot) tetap mengantisipasi lonjakan pendatang, terutama pasca Lebaran. Karena itu, Pemkot Surabaya menerbitkan Surat Edaran (SE) tentang pengendalian mobilisasi penduduk pada 2026. Hal ini menjadi salah satu strategi yang disiapkan adalah pembatasan akses kerja melalui sistem digital.

Sumber: