new idulfitri

Sosiolog Unesa Ingatkan Pemkot Surabaya Tak Antipati Hadapi Urbanisasi Pasca Lebaran

Sosiolog Unesa Ingatkan Pemkot Surabaya Tak Antipati Hadapi Urbanisasi Pasca Lebaran

Ken Bimo Sultoni.--

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Fenomena urbanisasi yang menyertai arus balik Lebaran 2026 menjadi perhatian serius para pakar. Sosiolog dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ken Bimo Sultoni, mengingatkan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya agar tidak bersikap antipati terhadap kedatangan warga pendatang.


Mini Kidi Wipes.--

Bimo menekankan pentingnya bagi Pemkot Surabaya untuk membedah pola urbanisasi secara mendalam. Menurutnya, akses terhadap kota tidak boleh terkesan eksklusif hanya untuk kalangan tertentu.

"Surabaya perlu mengambil pelajaran penting melihat fenomena urbanisasi. Sebaiknya tidak antipati, akan tapi harus dikelola bukan malah dibatasi secara eksklusif hanya untuk orang-orang tertentu saja yang mungkin sudah mapan," tegas Bimo, Minggu, 29 Maret 2026.

BACA JUGA:DPRD Jatim Ingatkan Pemprov, Urbanisasi Pascalebaran Menjadi Ancaman bagi Kota Besar


Gempur Rokok Ilegal -----

Dalam analisisnya, Bimo menyarankan Surabaya untuk memetik pelajaran dari manajemen kependudukan di Jakarta. Kendati punya tipologi geografis, sosial, ekonomi, dan budaya yang berbeda, namun pola yang diterapkan Jakarta patut ditiru.

Ia menilai, Pemprov DKI Jakarta kini cenderung lebih terbuka dan berpengalaman dalam mengelola perpindahan penduduk skala besar setelah masa libur panjang.

BACA JUGA:People Power Bisa Bikin Trump Jatuh

Berangkat dari pengalaman panjang tersebut, Jakarta disebut telah menggeser pendekatannya dari tindakan represif menjadi lebih adaptif.

"Pendekatannya bergeser yang sifatnya represif, melarang, ataupun membatasi lebih ke arah adaptif menghadapi fenomena urbanisasi ini," jelas Bimo.

BACA JUGA:Kendalikan Urbanisasi, Pemkot Surabaya Terbitkan SE Pemantauan Penduduk Pasca-Lebaran

Sebaliknya, Bimo melihat Surabaya masih cenderung memandang urbanisasi sebagai potensi gangguan yang memerlukan kontrol ketat. Perbedaan perspektif ini menurutnya sangat dipengaruhi oleh rekam jejak historis masing-masing daerah dalam menangani pendatang.

"Mungkin dari konteks pengalaman itu Surabaya masih belajar untuk bisa melihat fenomena urbanisasi ini. Namun itu prioritas politik dari Pemda terkait Surabaya ataupun Jakarta," paparnya.

Sumber: