idulfitri 1447 h new

Lebaran Diprediksi Berbeda, Bolehkah Puasa Ikut NU, Lebaran Ikut Muhammadiyah?

Lebaran Diprediksi Berbeda, Bolehkah Puasa Ikut NU, Lebaran Ikut Muhammadiyah?

Ilustrasi umat Islam melaksanakan ibadah di bulan Ramadan di tengah perbedaan penetapan awal dan akhir puasa.-(sumber foto: freepik.com)-

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Puasa Ramadan merupakan ibadah wajib bagi umat Islam sebagaimana diperintahkan dalam Alquran, yakni menahan diri dari terbit fajar hingga terbenam matahari selama satu bulan penuh. 

BACA JUGA:Lebaran 2026 Makin Mencekam, Danur: The Last Chapter Jadi Penutup Epik Franchise Horor Populer

Namun, dalam praktiknya di Indonesia, sering muncul perbedaan dalam penentuan awal dan akhir Ramadan. Seperti yang diketahui, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah memiliki metode berbeda dalam menentukan awal bulan Hijriah. 


Mini Kidi Wipes.--

Muhammadiyah menggunakan metode hisab (perhitungan astronomi), sedangkan pemerintah bersama NU menggunakan metode rukyat (pengamatan hilal).

BACA JUGA:Wajah Kusam karena Kurang Tidur? Ini Tips Glowing Kilat H-3 Lebaran

Lantas, bolehkah seseorang memulai puasa mengikuti Muhammadiyah, tetapi merayakan Lebaran mengikuti NU?

BACA JUGA:Mudik hingga Halal Bihalal, Ini 10 Tradisi Lebaran yang Paling Dinanti

Secara syariat, jumlah hari dalam satu bulan Hijriah adalah 29 atau 30 hari. Jika seseorang memulai puasa mengikuti Muhammadiyah (biasanya lebih awal) dan mengakhiri mengikuti NU (biasanya lebih lambat), maka jumlah puasanya bisa menjadi 31 hari. Padahal, dalam Islam tidak ada bulan yang berjumlah 31 hari.

BACA JUGA:Cek Harga Sembako Terbaru Jelang Lebaran 2026, Mulai dari Beras hingga Daging

Sebaliknya, jika memulai puasa bersama NU dan mengakhiri lebih awal bersama Muhammadiyah, jumlah puasanya bisa kurang dari 29 hari, misalnya hanya 28 hari. Dalam kondisi ini, seseorang wajib mengqadha (mengganti) satu hari puasa karena tidak memenuhi batas minimal.

BACA JUGA:Jangan Asal Beli! Ini Tips Cerdas Memilih Kue Kering Lebaran yang Aman dan Berkualitas

Karena itu, para ulama umumnya menyarankan agar umat Islam konsisten dalam mengikuti satu metode yang diyakini, baik itu mengikuti pemerintah/NU dengan rukyat maupun Muhammadiyah dengan hisab.

BACA JUGA:Enam Ide Kue Kering Selain Nastar untuk Sajian Lebaran di Rumah

Sumber: