Hari Raya Idulfitri 1447 H

Mudik Aman Bukan Sekadar Slogan

Mudik Aman Bukan Sekadar Slogan

Sujatmiko, pemimpin redaksi SKH Memorandum.--

GELOMBANG mudik Lebaran 2026 mulai terasa di Jawa Timur. Pergerakan manusia dalam jumlah besar kembali menjadi fenomena tahunan yang tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri. 

Jalan raya akan dipenuhi kendaraan pribadi, sepeda motor, bus antarkota, hingga angkutan tidak resmi yang memanfaatkan tingginya permintaan perjalanan.

Di tengah suasana penuh harapan untuk berkumpul bersama keluarga, satu persoalan klasik kembali mengintai: tingginya angka kecelakaan lalu lintas.

Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan pola yang hampir seragam. Lonjakan mobilitas selalu diikuti peningkatan risiko kecelakaan.

Faktor penyebabnya pun bukan hal baru, kelelahan pengemudi, pelanggaran aturan lalu lintas, kendaraan tidak laik jalan, serta manajemen arus yang belum sepenuhnya disiplin. 

Artinya, persoalan utama bukan pada kurangnya pengalaman menghadapi mudik, melainkan konsistensi dalam menjalankan langkah pencegahan.

BACA JUGA:Kejamnya Teknologi, Video Netanyahu Diduga AI

BACA JUGA:Lailatul Qadar dan Krisis Global

Di sinilah peran negara diuji. Kepolisian tidak cukup hanya hadir sebagai pengurai kemacetan. Rekayasa lalu lintas, pengawasan berbasis teknologi, dan penegakan hukum terhadap pelanggaran berisiko tinggi harus menjadi prioritas utama.

Toleransi terhadap pelanggaran fatal di jalan raya sama artinya membuka ruang bagi potensi korban jiwa.

Dinas Perhubungan pun memikul tanggung jawab yang tidak kalah besar. Pemeriksaan kelayakan kendaraan umum, pengawasan jam kerja pengemudi, hingga kesiapan infrastruktur jalan merupakan garis pertahanan pertama sebelum kecelakaan terjadi. 

Banyak tragedi lalu lintas sesungguhnya dapat dicegah sejak tahap persiapan, bukan setelah insiden berlangsung.

Sementara itu, peran Jasa Raharja tidak boleh dipahami semata sebagai pemberi santunan bagi korban.

Data kecelakaan yang dimiliki lembaga ini semestinya menjadi basis kebijakan keselamatan jalan yang lebih presisi dan terintegrasi antarinstansi. Pencegahan harus menjadi agenda utama, bukan sekadar respons setelah tragedi.

Namun demikian, keberhasilan mudik aman tidak akan tercapai tanpa kesadaran publik. Disiplin berlalu lintas, kesiapan fisik pengemudi, serta kepatuhan terhadap aturan menjadi faktor penentu yang sering kali diabaikan.

Infrastruktur dapat diperbaiki, aparat dapat disiagakan, tetapi keputusan di balik kemudi tetap berada di tangan individu.

Mudik adalah tradisi sosial yang sarat makna emosional dan kultural.

Negara berkewajiban memastikan perjalanan itu berlangsung aman, sementara masyarakat bertanggung jawab menjaga keselamatan dirinya dan orang lain.

Lebaran tidak seharusnya menyisakan statistik korban di jalan raya.

Mudik aman bukan slogan seremonial tahunan. Ia harus menjadi ukuran nyata keberhasilan negara melindungi warganya dan kedewasaan masyarakat dalam menghargai nyawa di jalan.

Sumber:

Berita Terkait