selamat menunaikan ibadah ramadan 2026

Pusaran Uang Rp 31 M di RSUD dr. Soebandi: Pasien Membludak, Alat Cuci Darah Langka, ke Mana Larinya Jaspel?

Pusaran Uang Rp 31 M di RSUD dr. Soebandi: Pasien Membludak, Alat Cuci Darah Langka, ke Mana Larinya Jaspel?

Legislator Komisi D, Wahyu Prayudi Nugroho--

​JEMBER, MEMORANDUM.DISWAY.ID -  Angka fantastis sebesar Rp31 miliar per bulan mendadak jadi buah bibir. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soebandi Jember kini tengah berada di bawah radar tajam DPRD Kabupaten Jember setelah pendapatan mereka melonjak drastis hingga dua kali lipat dari angka normal.

​Namun, di balik tumpukan rupiah tersebut, terselip ironi yang menyayat hati: fasilitas yang tertatih-tatih dan transparansi jaspel yang masih berkabut.

BACA JUGA:Sales Cat Didakwa Gelapkan Uang Tagihan, Modus Nota dan Stempel Fiktif Rugikan Perusahaan Rp36 Juta


Mini Kidi Wipes.--

​Legislator dari Komisi D, Wahyu Prayudi Nugroho, tak kuasa menyembunyikan keheranannya. Pendapatan yang dulu hanya berada di kisaran Rp15-17 miliar, kini melesat ke angka Rp31 miliar seiring dengan membanjirnya pasien program Universal Health Coverage (UHC).

​Setiap hari, lorong-lorong rumah sakit disesaki sekitar 1.300 pasien, dengan ribuan tindakan medis yang dilakukan. Namun, kenaikan pundi-pundi kas rumah sakit ini justru memicu sindiran pedas dari kalangan dewan.

​"Pendapatan naik drastis, pelayanan juga harus naik kualitasnya! Jangan sampai masyarakat hanya jadi angka untuk mendulang uang, sementara mereka masih harus berjibaku dengan antrean panjang dan fasilitas terbatas," tegas Wahyu dengan nada menyindir.

BACA JUGA:Ubah Rekening Perusahaan ke Rekening Pribadi, Supervisor Ayam Goreng Didakwa Gelapkan Rp52,5 Juta


Gempur Rokok Illegal--

​Sorotan paling tajam diarahkan pada pembagian Jasa Pelayanan (Jaspel) yang diklaim berada di angka 28-30 persen. DPRD menuntut transparansi total. Mereka mendesak agar data distribusi jaspel dibuka hingga ke level individu—dari manajemen hingga tenaga medis paling bawah.

​"Kami minta data dibuka per orang! Jangan ada yang ditutup-tutupi. Rakyat harus tahu apakah keringat tenaga medis dihargai dengan layak atau hanya menguntungkan segelintir elit manajemen," tuntut politisi PDI Perjuangan tersebut.

BACA JUGA:Empat Karyawan di Surabaya Didakwa Gelapkan Plat Besi Rp 6,68 Miliar

​Kontras antara kekayaan rumah sakit dan ketersediaan fasilitas terlihat jelas pada layanan hemodialisis. Di tengah penghasilan miliaran rupiah, Jember masih mengalami krisis alat cuci darah. Dari kebutuhan mendesak sebanyak 270 unit, saat ini baru tersedia 70 unit.

​Ironisnya, meski ada rencana penambahan hingga 100 unit, angka itu dinilai masih jauh dari kata cukup untuk menyelamatkan nyawa masyarakat Jember yang mengantre demi menyambung hidup.

Sumber: