Matangkan Persiapan Operasional Unit Tambak Osowilangon, RPH Surabaya Gelar Dialog Bersama Mitra Jagal
Dialog RPH Surabaya bersama mitra jagal.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - PD Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya terus mematangkan langkah strategis menyambut operasional Unit Tambak Osowilangon (TOW). Terbaru, manajemen RPH duduk bersama para mitra jagal untuk menyelaraskan visi serta memastikan kesiapan fasilitas sebelum resmi beroperasi.

Mini Kidi Wipes.--
Direktur Utama RPH Surabaya, Fajar A Isnugroho Pertemuan, menyebut pertemuan ini bukan sekadar diskusi internal, melainkan kolaborasi lintas instansi.
Pihaknya turut mengundang perwakilan dari Satpol PP Surabaya, Polres Tanjung Perak, DPRKPP, DKPP, hingga BPSDA Surabaya. Kehadiran para pemangku kepentingan ini bertujuan menjamin aspek teknis, keamanan, hingga infrastruktur kawasan TOW benar-benar siap mendukung aktivitas pemotongan hewan.
BACA JUGA:Respons Penolakan Relokasi Jagal Sapi, Wali Kota Eri Tegaskan RPH Pegirian Tetap Pindah

Gempur Rokok Illegal--
Fajar menegaskan bahwa target operasional ini merupakan tindak lanjut langsung dari instruksi Pemerintah Kota Surabaya.
“Sesuai arahan Pemkot Surabaya, rencana operasional unit Tambak Osowilangon dilaksanakan pada 31 Maret 2026. Kami tentu membuka ruang dialog, prinsipnya kami harus menyiapkan semua aspek agar pelayanan pemotongan berjalan optimal sejak hari pertama,” ujar Fajar, Kamis, 26 Februari 2026.
Meskipun target telah ditetapkan pasca Idulfitri 2026, manajemen tetap memprioritaskan transparansi dengan mendengarkan aspirasi para pelaku usaha yang selama ini beroperasi di RPH Pegirian.
Dalam sesi dialog, para mitra jagal Pegirian memberikan sudut pandang konstruktif. Mengingat kompleksitas adaptasi bisnis, mereka mengusulkan agar perpindahan operasional penuh dipertimbangkan secara bertahap hingga akhir 2026.
Di sisi lain, para mitra menunjukkan sikap terbuka dengan mempersilakan calon mitra jagal baru maupun lama untuk mulai memanfaatkan unit TOW setelah Idulfitri.
Beberapa poin krusial juga menjadi sorotan para mitra, di antaranya permintaan optimasi sarana pemotongan di lokasi baru, masukan mengenai kondisi kawasan yang dinilai rawan genangan atau banjir saat musim hujan, dan kesepakatan untuk melakukan peninjauan lapangan (onsite) guna melihat langsung kesiapan fisik bangunan.
Merespons dinamika tersebut, Fajar memastikan bahwa suara para mitra tidak akan berhenti di ruang rapat. Pihaknya berkomitmen membawa aspirasi tersebut ke tingkat pembuat kebijakan di Balai Kota.
Sumber:




