Kuliah Sastra Pagi, Sore Jadi Bos Durian Kocok di Pasar Kodam Brawijaya Surabaya
-sumber: foto pribadi-
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Ahmad Fatichal, mahasiswa Sastra Indonesia semester 10 Universitas Negeri Surabaya, yang kalau siang terlihat seperti pejuang akademik biasa, tapi ketika sore menjelma jadi bos Durian Kocok di Pasar Kodam Brawijaya Surabaya.

Mini Kidi Wipes.--
Ekonomi yang Tidak Puitis
Dalam sehari, durian kocoknya bisa terjual 20 sampai 40 gelas. Gelas besar seharga Rp 20.000. Gelas sedang Rp 15.000. Secara kasar, omzet kotor berada di rentang Rp 300.000 hingga Rp 800.000, tergantung cuaca, hari, dan suasana pasar.
BACA JUGA:Perangi Hama Durian, Pemkab Pasuruan Gandeng BRIN
Jika sedang ramai, misalnya akhir pekan atau malam ketika suasana Pasar Kodam Brawijaya hidup dan mayoritas pembeli memilih gelas besar, angka Rp 600.000 sampai Rp 800.000 bukan hal mustahil.
Yang Dikocok Durian, Bukan Nasib
Durian kocok itu sederhana. Ada daging durian, es, susu, lalu dikocok sampai menyatu. Tapi di tangan Fatichal, ia bukan sekadar minuman. Ia adalah pertunjukan.
Ada ritme ketika ia mengocok. Ada tempo. Ada dramaturgi kecil antara pembeli yang tak sabar dan durian yang belum sepenuhnya halus.
Kalau diperhatikan baik-baik, itu hampir seperti latihan teater. Ada timing, gesture, ekspresi. Mungkin itu sebabnya ia dipanggil “Seniman Ngagel.”
BACA JUGA:Peringati Hari Pahlawan, Wali Kota Wahyu Tanam 1.000 Pohon Durian di Wonokoyo
Seniman yang Tidak Menunggu Panggung
Di luar pasar, Fatichal menggeluti sastra, teater, dan musik. Ia hidup di antara naskah, panggung, dan muspus. Tapi ia tidak menggantungkan hidupnya pada proposal kebudayaan yang nasibnya sering lebih tragis dari tokoh Hamlet atau penyair Chairil Anwar. Ia memilih jalan yang lebih konkret yaitu kerja dulu, berkarya kemudian.
Di kota yang kadang terlalu sibuk memoles citra, Fatichal hadir dengan keringat asli. Ia tidak alergi pada kerja kasar. Ia tidak merasa turun derajat karena berdiri di balik stand pasar kodam.
Sumber:







