10 Hari Pertama Bulan Suci Ramadan, Senator Lia Beri Catatan Soal Spiritual hingga Sosial
Lia Istifhama.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Sepuluh hari pertama Ramadan 1447 Hijriah dimanfaatkan anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr Lia Istifhama, sebagai ruang refleksi spiritual sekaligus sosial. Di tengah padatnya agenda kebangsaan, Lia memilih menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki diri dan memperkuat etika pelayanan publik.
Dalam sejumlah kegiatan buka bersama, santunan anak yatim, hingga silaturahmi dengan tokoh masyarakat, Lia konsisten mengangkat pesan-pesan hadis Nabi Muhammad SAW sebagai pijakan.
BACA JUGA:Kajati Jatim Ajak Lia Istifhama Kolaborasi Penyuluhan Hukum untuk Generasi Z

Mini Kidi Wipes.--
Salah satu hadis yang ia jadikan pegangan adalah riwayat Tirmidzi: “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.”
Menurut Lia, pesan itu sangat relevan bagi pejabat publik.
“Ramadan ini momentum fokus pada kerja nyata. Tinggalkan polemik yang tidak produktif dan perbanyak kontribusi yang berdampak,” ujarnya, Senin, 23 Februari 2026.
Dalam tausiyahnya melalui media sosial, Lia juga mengingatkan hadis tentang orang yang bangkrut di hari kiamat (HR Muslim). Yakni, mereka yang datang dengan pahala ibadah, tetapi semasa hidupnya gemar menyakiti orang lain.
“Jangan sampai kita rajin ibadah, tetapi melukai orang lain dengan ucapan atau tindakan,” tegasnya.
Baginya, Ramadan adalah momentum audit moral tahunan—terutama bagi pemegang amanah publik.
Mengutip hadis dari Abu Ya’la yang disahihkan Imam Hakim, Lia menekankan bahwa manusia tidak akan mampu mencukupi orang lain dengan harta semata, tetapi bisa dengan wajah yang bersahabat dan akhlak yang baik.
Ia menyebut pendekatan humanis dalam pelayanan masyarakat jauh lebih membekas dibanding bantuan material semata.
Sumber:




