selamat menunaikan ibadah ramadan 2026

Ketika Persebaya Seperti Kehilangan Kompas di Bumi Kartini

Ketika Persebaya Seperti Kehilangan Kompas di Bumi Kartini

Eko Yudiono, Pemred memorandum.disway.id.--

SEPAK bola kadang sederhana: siapa menguasai lini tengah, dialah yang menguasai pertandingan.

Sayangnya, dalam laga melawan Persijap Jepara, pelajaran dasar itu seolah lupa dibawa oleh Persebaya Surabaya ke Stadion Gelora Bumi Kartini.

Malam itu, lini tengah Persebaya bukan kalah strategi, melainkan seperti datang tanpa peta. Iker Guarrotxena, Lucas Morelatto, Borja Herrera, dan Alexis Gomez bermain layaknya pemilik rumah yang tahu setiap sudut lapangan,

sementara para gelandang Bajol Ijo lebih terlihat seperti tamu yang tersesat mencari arah pulang.

Bruno Moreira, Francisco Rivera, Gali Freitas, hingga Milos Raickovic sebenarnya bukan pemain sembarangan.

Namun tekanan konstan Persijap sejak peluit awal membuat kreativitas mereka seolah terkunci. Bola lebih sering diperebutkan daripada diolah. Permainan pun berubah menjadi reaktif, bukan inisiatif.

Di lini depan, Alfan Suaib yang dipercaya sejak menit awal belum mampu menjadi pembeda. Serangan Persebaya terasa seperti rencana tanpa eksekusiniat ada, peluang nyaris tidak terlihat.

Sementara itu, lini belakang yang dikomandoi Leo Lelis tampak kesulitan menjaga kedalaman pertahanan. Akibatnya, penyerang Persijap berkali-kali masuk ke kotak penalti dengan kenyamanan yang mungkin bahkan tidak mereka duga sebelumnya.

Ironisnya, Persebaya justru terjebak dalam skenario lawan. Alih-alih bermain sabar, skuad asuhan Bernardo Tavares terpancing untuk membuka ruang.

Umpan-umpan provokatif Persijap berhasil mengundang Persebaya keluar dari bentuk permainan idealnya. Hasilnya? Pertahanan terbuka, lini tengah kosong, dan peluang lawan mengalir deras.

Sebelum laga, prediksi bahwa pertahanan Persijap mudah ditembus terdengar meyakinkan. Namun realitas di lapangan berkata lain.

Justru Persijap tampil disiplin dan solid, sementara Persebaya terlihat kehilangan identitas permainan.

Jika sepak bola adalah soal membaca pertandingan, maka malam itu Persijap membaca buku yang benar, sedangkan Persebaya tampaknya salah halaman.

Dua kekalahan beruntun bukan sekadar angka di klasemen. Enam poin melayang adalah alarm keras bagi tim pelatih.

Pekerjaan rumah kini menumpuk di meja Bernardo Tavares: memperbaiki transisi, memperkuat mental tanding, dan yang paling penting, mengembalikan keseimbangan tim.

Ujian berikutnya sudah menunggu saat Persebaya menjamu PSM Makassar di Stadion Gelora Bung Tomo.

Jika performa tak segera berubah, reaksi Bonek dan Bonita kemungkinan tak lagi berupa kritik halus, melainkan tuntutan nyata akan perubahan.

Karena dalam sepak bola Surabaya, kalah sekali masih bisa dimaklumi. Tapi kehilangan karakter permainan? Itu cerita yang jauh lebih sulit diterima.


Sumber: