Tekanan Level Dewa! Postecoglou Sebut Kursi Pelatih Manchester United Paling Berat di Dunia
Para pemain MU selebrasi usai mencetak gol.-IG:Manchesterunited.-
MEMORANDUM.DISWAY.ID-Mantan pelatih Tottenham Hotspur dan Nottingham Forest, Ange Postecoglou, menyebut posisi manajer di Manchester United sebagai pekerjaan paling sulit di dunia sepak bola.
Pernyataan tersebut ia sampaikan saat menjadi tamu dalam podcast The Overlap, ketika membahas tekanan besar yang melekat pada kursi kepelatihan klub raksasa Inggris tersebut.
Menurut Postecoglou, tingginya sorotan media, ekspektasi publik, serta sejarah panjang klub membuat siapa pun yang menangani Manchester United harus memiliki mental dan karakter yang luar biasa kuat.
Ia menilai tekanan yang dihadapi pelatih United jauh melampaui sekadar tuntutan meraih kemenangan di lapangan.
“Ini adalah pekerjaan tersulit di sepak bola karena pengawasan yang begitu ketat dan perhatian yang tidak pernah berhenti,” ujar Postecoglou seperti dilansir ESPN.
BACA JUGA:Saka Kunci Masa Depan! Bintang Arsenal Resmi Perpanjang Kontrak hingga 2030

Mini Kidi Wipes.--
Ia menambahkan bahwa dibutuhkan sosok dengan disiplin tinggi dan visi jangka panjang untuk bertahan menghadapi tekanan tersebut.
Saat ini, posisi pelatih United dipegang oleh Michael Carrick yang ditunjuk pada Januari lalu menggantikan Ruben Amorim.
Di bawah arahan Carrick, performa tim mulai membaik dan berhasil membawa Setan Merah naik ke posisi empat besar Liga Premier Inggris.
Amorim sendiri dipecat setelah menjalani 14 bulan masa kepelatihan yang kurang memuaskan.
Pada musim 2024–2025, Manchester United hanya finis di peringkat ke-15 liga dan juga gagal meraih trofi setelah kalah di final Liga Europa dari tim asuhan Postecoglou kala itu bersama Tottenham.
Postecoglou menilai tantangan terbesar melatih United bukan hanya soal taktik atau strategi permainan, tetapi juga kemampuan menghadapi tekanan psikologis yang konstan.

Gempur Rokok Illegal--
Ia mencontohkan bagaimana seorang pelatih bisa memenangkan banyak pertandingan, tetapi tetap mendapat kritik tajam hanya karena satu kekalahan.
“Tidak ada solusi instan di klub seperti ini. Seorang pelatih harus siap menjalani ratusan konferensi pers setiap tahun, menghadapi kritik tanpa henti, dan tetap berpegang pada prinsipnya sendiri,” jelasnya.
Ia juga menyoroti bahwa sejarah besar Manchester United selalu menjadi bayang-bayang yang menyertai setiap keputusan pelatih.
Karena itu, dibutuhkan figur yang cukup kuat secara mental untuk tetap konsisten dengan filosofi permainan yang diyakininya.
Hingga kini, manajemen Manchester United belum memberikan kepastian mengenai masa depan jangka panjang Carrick.
Pelatih asal Inggris tersebut masih terikat kontrak hingga akhir musim 2025–2026, sementara evaluasi performa tim diperkirakan akan menjadi faktor penentu keputusan klub selanjutnya.
Sumber:




