selamat menunaikan ibadah ramadan 2026

Isak Tangis di Sudut Kakbah, Kisah Haru 4 Sekawan Mencari Ampunan dan Kepasrahan di Tanah Suci

Isak Tangis di Sudut Kakbah, Kisah Haru 4 Sekawan Mencari Ampunan dan Kepasrahan di Tanah Suci

Rakhmat Hidayat, Suhadak, dan Ihyak Ulumuddin (ketiganya karyawan Memorandum), serta Ridwan Dwiki, seorang pengusaha muda asal Trosobo, Sidoarjo.--

​MAKKAH, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Di tengah riuh jutaan jemaah umrah yang bertawaf mengitari Kakbah, terselip sebuah kisah tentang persahabatan dan spritualitas.

Empat orang yang dipertemukan oleh takdir dalam satu rombongan jemaah Bakkah Travel ini tak kuasa menahan air mata saat menyentuh kiblat umat Islam tersebut.

BACA JUGA:Hadapi Umrah Kedua, Jemaah Bakkah Travel Fokus Penguatan Fisik


Mini Kidi--

​Empat sekawan tersebut adalah Rakhmat Hidayat, Suhadak, dan Ihyak Ulumuddin (ketiganya karyawan Memorandum), serta Ridwan Dwiki, seorang pengusaha muda asal Trosobo, Sidoarjo.

Kedekatan mereka bermula dari kebersamaan menginap dalam satu kamar hotel, baik saat di Madinah maupun Makkah.

BACA JUGA:Terpisah di Tengah Tawaf, Pasutri Jemaah Umrah Bakkah Travel Bertemu di Bawah Lindungan Kakbah

​Perjuangan Menembus Lautan Manusia ​Kedekatan itu melahirkan sebuah rencana nekat: melakukan tawaf mandiri demi bisa menyentuh dan mencium Kakbah secara langsung. Ide ini dicetuskan oleh Ridwan Dwiki yang memiliki nazar khusus.

"Gagasan berasal dari Ridwan yang sangat ingin memegang dan mencium Kakbah," kenang Rakhmat Hidayat.

​Namun, perjuangan itu tidak mudah. Ridwan menceritakan betapa kerasnya atmosfer di bawah dinding Kakbah. Selain harus berdesakan, ia harus berhadapan dengan aroma tubuh jemaah dari berbagai belahan dunia yang menyengat.

BACA JUGA:Efisiensi dan Kenyamanan Jemaah Bakkah Umrah Nikmati Kereta Cepat Haramain

​"Saya hampir muntah karena bau ketiak jemaah lain saat mencoba mencium dinding Kakbah yang dilapisi kiswah. Tapi saya harus berjuang demi menyampaikan nazar saya," tandas Ridwan.

​Begitu tangannya menyentuh dinding suci tersebut, pertahanannya runtuh. Ridwan menangis sejadi-jadinya, mengingat dosa-dosa masa lalu dan bertekad untuk bertobat menjadi pribadi yang lebih baik.

​Pengalaman yang tak kalah menegangkan dialami oleh Suhadak.

Sumber: