Pengakuan yang Datang Terlambat: Anak yang Tumbuh Tanpa Nama Ayah (1)
-Ilustrasi-
BULAN membesarkan anak itu dengan ketenangan yang ia pelajari sendiri. Tidak banyak cerita tentang masa lalu, tidak pula penjelasan panjang yang berputar-putar.
Sejak awal ia memilih satu sikap: cukupkan yang ada, jangan menunggu yang tak pasti. Di rumah kecil itu, anaknya tumbuh dengan rutinitas yang rapi sekolah, makan, doa, tidur seolah semuanya lengkap, meski satu kolom selalu kosong di setiap formulir.

Mini Kidi--
Suatu sore, ketika Bulan sedang melipat baju, anak itu bertanya tanpa menatap wajahnya. “Bu, kenapa namaku cuma satu?” Bulan berhenti sejenak, menarik napas, lalu duduk di tepi ranjang.
“Karena waktu kamu lahir, Ibu yang paling siap,” jawabnya pelan. Anak itu mengangguk, seperti menerima jawaban yang belum sepenuhnya ia pahami. Tidak ada tangis. Tidak ada protes. Hanya rasa ingin tahu yang disimpan rapi.
Nama Bintang mulai sering muncul di televisi. Wajahnya dikenal, ucapannya dikutip, hidupnya tampak utuh di mata publik.
Anak itu menonton dengan jarak aman, lalu suatu hari berkata, “Bu, orang itu mirip aku.” Bulan tersenyum tipis. “Iya,” katanya singkat.
Anak itu menoleh, ingin bertanya lebih jauh, tapi Bulan sudah kembali melipat baju, seolah topik itu tak perlu dibuka hari itu.
Bagi Bulan, menyebut nama ayah bukan perkara mudah. Ia pernah menimbang untuk datang, mengetuk pintu masa lalu, dan meminta kejelasan.
Namun setiap kali niat itu muncul, ia mengingat satu hal sederhana: anaknya butuh stabilitas, bukan janji yang mungkin kembali ditunda. “Ayahmu ada,” katanya suatu malam ketika anak itu bertanya lagi.
“Tapi belum bisa hadir.” Kalimat itu menjadi batas yang ia jaga jujur, tapi tidak membuka luka lebih lebar.
Waktu berjalan, dan anak itu tumbuh dengan cara yang membuat Bulan bangga. Ia cerdas, sopan, dan jarang menuntut.
Justru itulah yang sering membuat Bulan terdiam lama di malam hari. Ia takut anaknya belajar terlalu cepat untuk menerima kekurangan sebagai hal yang wajar. Ia takut kelak pertanyaan tentang ayah tidak lagi datang dengan polos, melainkan dengan kemarahan.
Series ini dimulai dari kehidupan yang tampak tenang, namun menyimpan satu kebenaran yang terus berdenyut pelan: seorang anak yang tumbuh tanpa nama ayah bukan berarti tumbuh tanpa pertanyaan.
Sumber:
