Bukan Lagi yang Dulu: Merasa Paling Penting (2)
-Ilustrasi-
SEJAK jabatan itu resmi disematkan di kartu namanya, Bintang berubah tanpa sadar atau mungkin sadar, tapi memilih menutup mata.
Ia pulang lebih larut. Bukan karena pekerjaan selalu menumpuk, tapi karena merasa waktunya terlalu berharga untuk dihabiskan di rumah.

Mini Kidi--
Rapat, makan malam klien, diskusi dadakan—semuanya terdengar penting. Terlalu penting, sampai Intan tak lagi masuk dalam daftar prioritas.
Awalnya Intan mencoba mengerti.
Ia masih menyiapkan makan malam meski sering dingin.
Masih menunggu, meski pesan “sebentar lagi” tak pernah benar-benar berarti sebentar.
Namun ada satu hal yang perlahan menggerogoti hatinya:
cara Bintang mulai berbicara.
Nada suaranya berubah. Lebih cepat, lebih tegas, lebih sering memotong.
Setiap cerita Intan terasa remeh dibanding masalah kantor.
Setiap keluhan Intan selalu kalah oleh kata,
“Aku capek. Kamu nggak ngerti tanggung jawabku sekarang.”
Bintang mulai merasa dirinya pusat segalanya.
Sumber:
