Talak Tiga: Semuanya Sudah Terlambat (3)

Talak Tiga: Semuanya Sudah Terlambat (3)

-Ilustrasi-

BINTANG duduk sendiri di kamar kontrakannya. Gelas kopi dingin di sampingnya tak tersentuh. Di tangannya, selembar kertas bergambar tangan-tangan kecil gambar dari anak sulungnya yang dikirim via WhatsApp oleh Bulan.

“Ini gambar dari Fajar, katanya ini Papa, Mama, dan Fajar lagi pegang tangan bareng.”

Pesan singkat dari Bulan itu terasa seperti belati. Mengiris pelan, tapi dalam.


Mini Kidi--

Bintang menangis. Tangisan yang tidak pernah ia izinkan keluar selama ini. Bukan hanya karena rindu. Tapi karena sadar, semua ini adalah kesalahannya sendiri. Ucapan “talak” yang ia lontarkan berkali-kali, tanpa pernah benar-benar memaknai dampaknya.

Di sisi lain, Bulan juga tak baik-baik saja. Ia kuat di luar, tapi sering roboh saat malam tiba. Meskipun secara agama dan hukum ia bebas dari hubungan yang menyakitkan, tetapi kehilangan rumah dan ayah dari anak-anaknya tetap menyisakan luka.

Ia pernah mencintai Bintang, bahkan masih menyisakan perasaan itu tapi kini ia tahu, cinta saja tidak cukup. Terutama bila tak dibarengi akhlak dan tanggung jawab.

Suatu hari, mereka kembali dipertemukan dalam ruang konseling sekolah, untuk membahas kegiatan akhir tahun anak mereka.

“Kamu kelihatan kurusan,” ujar Bulan, membuka percakapan.

Bintang mengangguk, senyum tipis. “Iya, mungkin karena nggak ada yang cerewetin makan.”

Bulan terdiam. “Aku juga rindu cerewet kamu soal lampu kamar yang nggak dimatiin.”

Mereka tertawa kecil. Tapi di balik tawa itu, ada dinding yang tak bisa ditembus lagi: dinding hukum agama, dan luka yang tak bisa begitu saja dilupakan.

Setelah sesi itu, Bintang menuliskan sesuatu di media sosialnya:

“Tiga kata. Tiga detik. Tapi menghancurkan tiga jiwa: aku, dia, dan anak-anakku. Jangan pernah ucapkan talak hanya karena emosi. Karena tak semua yang pecah bisa diperbaiki.”

Sumber: