Integrasi Trans Jatim dan Suroboyo Bus Buntu, Kadishub Nyono: Kami Masih Menunggu Respons
Kadishub Jatim Nyono.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Ambisi mewujudkan sistem transportasi publik yang terpadu di wilayah Metropolitan Gerbangkertosusila masih membentur tembok tinggi. Meski secara rute Trans Jatim dan Suroboyo Bus sudah saling bersinggungan, namun sistem pembayaran satu pintu (integrasi tiket) yang diidamkan masyarakat hingga kini belum menemui titik terang.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur, Nyono, mengungkapkan bahwa Trans Jatim sejatinya didesain bukan sekadar bus antarkota, melainkan tulang punggung konektivitas wilayah.
BACA JUGA:Usai Ditindak Satlantas Polres Gresik, Sopir Bus Trans Jatim Ugal-ugalan Kena Skors Perusahaan

Mini Kidi--
Keberhasilan integrasi sebenarnya sudah terbukti pada kolaborasi Trans Jatim dengan Kereta Commuter Indonesia (KCI), di mana penumpang dapat berpindah moda dengan sistem pembayaran yang saling terhubung.
Sayangnya, kemudahan serupa belum menyentuh layanan Suroboyo Bus. Nyono mengaku pihaknya telah berupaya membuka ruang dialog dengan Pemerintah Kota Surabaya, namun belum mendapatkan sinyal positif.
BACA JUGA:Jaga Stabilitas Tarif, Pemprov Jatim Fokus Optimalkan Operasional 8 Koridor Trans Jatim
"Kami sudah mengundang (Dishub Surabaya) dua kali, bahkan sampai tiga kali, namun tidak hadir. Padahal secara program dan lintasan rute, kita sebenarnya sudah terhubung di lapangan," ujar Nyono, Rabu, 21 Januari 2025.
Padahal, konsep kerja sama yang ditawarkan diklaim cukup adil dan sederhana. Nyono merinci skema pembagian pendapatan berbasis titik perjalanan (point-to-point).
Pertama, jika penumpang memulai perjalanan dari Trans Jatim, maka pihak Trans Jatim mendapat satu poin dan Suroboyo Bus setengah poin. Lalu, skema ini berlaku sebaliknya guna memastikan keadilan bagi kedua pengelola.
BACA JUGA:Satlantas Polres Gresik Tindak Tegas Sopir Bus Trans Jatim Ugal-ugalan di Jalan Protokol
Absennya integrasi finansial ini tidak hanya merugikan kenyamanan penumpang, tetapi juga menghambat ekspansi layanan.
Akibat belum adanya kesepahaman, armada Trans Jatim terpaksa menyesuaikan titik pemberhentian karena belum mendapatkan akses penuh untuk masuk ke jantung kota Surabaya.
"Integrasi transportasi publik adalah kebutuhan mendesak bagi masyarakat. Masa depan transportasi di Jawa Timur sangat bergantung pada kemauan semua pihak untuk duduk bersama," tegas Nyono.
Sumber:
