Cinta Terlarang Asisten Bos Besar: Saat Perhatian Menjadi Pengkhianatan (1)

Cinta Terlarang Asisten Bos Besar: Saat Perhatian Menjadi Pengkhianatan (1)

-Ilustrasi-

NAMANYA Bintang lelaki mapan, dihormati di kantornya, dan punya karisma yang tak sedikit membuat para staf perempuan salah tingkah. Di rumah, ia adalah suami dari Bulan, perempuan sabar yang telah menemaninya sejak belum punya apa-apa. Tapi entah sejak kapan, Bintang mulai merasa hampa dengan rutinitas rumah tangga yang penuh laporan sekolah anak, belanja mingguan, dan obrolan receh soal listrik rumah yang melonjak.

Masuklah Winda asisten pribadi sang bos besar. Cantik, cekatan, dan selalu tahu bagaimana membuat Bintang merasa penting. Mulanya hanya komunikasi soal jadwal meeting. Lalu berkembang menjadi obrolan tentang mimpi, ketertarikan yang nyaris tak terlihat… hingga akhirnya mereka terbiasa saling memberi perhatian lebih.


Mini Kidi--

“Pak Bintang sudah makan siang?”

“Saya bawain kopi favorit, Pak. Biar tetap semangat.”

Perhatian kecil itu terasa menyegarkan bagi Bintang yang sudah jarang mendapat pelukan istri sebelum kerja. Bulan sibuk dengan tiga anak, pekerjaan freelance-nya, dan urusan rumah tangga yang tak ada habisnya. Hubungan mereka perlahan menjadi formal dua manusia dalam satu rumah, tapi tak lagi saling bicara dari hati.

Bintang tahu yang ia lakukan salah. Tapi seperti candu, interaksi dengan Winda membuatnya merasa dihidupkan kembali. Mereka tertawa bersama di sela rapat, saling kirim pesan larut malam, hingga akhirnya, tanpa sadar, batas profesional mulai mengabur.

Suatu malam, Bintang pulang lebih malam dari biasanya. Aroma parfum asing menempel samar di bajunya. Bulan diam, tapi hatinya menjerit.

“Mas, kamu akhir-akhir ini sering lembur. Apa kerjaan di kantor segitu beratnya, atau… hatimu sudah entah di mana?”

Bintang terdiam. Ia ingin menjelaskan tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ia juga takut kehilangan semuanya Bulan, anak-anak, dan reputasinya.

Namun dunia tidak selalu bisa ia kendalikan. Suatu hari, handphone Bintang tertinggal di rumah. Sebuah notifikasi muncul:

“Terima kasih sudah peluk aku tadi siang. Rasanya damai banget, Mas.”

– Winda

Bulan membacanya. Tak ada air mata, hanya keheningan yang menakutkan. Saat Bintang pulang, ia menemukan istrinya duduk di ruang tengah, memegang ponselnya.

Sumber: