Liburan Terlarang di Pulau Dewata: Awal dari Pelarian (1)
-Ilustrasi-
BINTANG sedang berada di titik jenuh rumah tangganya bersama Bulan. Sepuluh tahun pernikahan, tiga anak, dan segudang tanggung jawab yang tak pernah memberi ruang untuk dirinya sendiri. Hari-harinya terasa seperti rutinitas tanpa jeda—bangun pagi, bekerja, pulang malam, mendengar keluhan istri, dan mencoba menjadi ayah yang ideal. Namun, di balik wajah sabar dan kata-kata manisnya di rumah, ada kegelisahan yang diam-diam tumbuh dan mekar.
Suatu hari, dalam sebuah reuni komunitas bisnis di Jakarta, Bintang kembali bertemu dengan Sunny janda dengan tiga anak yang kini tampak makin memesona dan dewasa. Mereka dulu hanya sebatas kenal karena pernah satu tim kerja dalam proyek pemerintah. Sunny yang kini aktif sebagai pengusaha travel, bercerita bahwa ia akan membuka cabang di Bali dan mengajak Bintang untuk sekadar melihat-lihat properti dan suasana bisnis di sana.

Mini Kidi--
“Aku butuh masukan dari orang yang berpengalaman,” ucap Sunny sambil tersenyum lembut di kafe hotel.
Bintang, yang haus akan perhatian dan suasana berbeda, tergoda. Ia tidak langsung menjawab, tapi malam itu pulang ke rumah dengan bayang-bayang Sunny yang membuat pikirannya tidak tenang.
Seminggu kemudian, ia beralasan ke Bulan bahwa ia ada tugas dinas ke Denpasar selama empat hari. Bulan mengangguk, percaya sepenuhnya. “Jangan lupa bawa oleh-oleh buat anak-anak ya,” ucapnya sambil melipat baju kerja Bintang ke koper.
Sesampainya di Bali, Bintang dijemput langsung oleh Sunny. Mereka menginap di vila yang sama, dengan alasan efisiensi dan penghematan biaya. Hari pertama mereka keliling area Ubud melihat properti, makan di warung lokal, dan malamnya duduk berdua menikmati angin pantai.
“Enak ya, bisa ngobrol tanpa tekanan,” ucap Sunny sambil menyeruput wine lokal.
Bintang hanya mengangguk, namun matanya berbicara lebih banyak. Ada ketertarikan. Ada rasa nyaman. Ada pelarian yang ia temukan. Hari kedua, mereka ke pantai, tertawa seperti anak remaja. Hingga malam itu, ketika hujan deras mengguyur vila, jarak di antara mereka tak lagi tersisa.
Pagi harinya, Bintang terdiam. Ia tahu batas itu telah terlewati. Tapi anehnya, tidak ada penyesalan, hanya kebingungan. Sunny tidak menuntut, tidak bertanya, tidak mengikat. Tapi justru itu yang membuat Bintang makin tenggelam dalam godaan.
Di sisi lain, Bulan mulai merasa firasat aneh. Biasanya Bintang rajin kirim kabar, tapi kali ini hanya satu dua pesan, bahkan tidak sempat video call. Anak-anak bertanya, “Ayah kok belum telpon?”
Bulan mencoba positif, menganggap suaminya sibuk. Tapi di hatinya mulai tumbuh tanda tanya: Apakah ini benar dinas? Atau ada yang disembunyikan?
Liburan itu bukan sekadar perjalanan bisnis atau healing singkat. Bagi Bintang, itu adalah pelarian yang melegakan namun sekaligus menjerat. Dan ia belum tahu bahwa keputusan ini akan mengubah segalanya…
Sumber:

