Lawan Perundungan Digital, Dindik Jatim Jadikan Bioskop Ruang Refleksi Karakter Guru

Lawan Perundungan Digital, Dindik Jatim Jadikan Bioskop Ruang Refleksi Karakter Guru

Momen Kadindik Aries nobar bioskop tentang cyberbullying bersama ratusan guru.--

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Layar lebar bioskop kini tidak lagi sebatas medium hiburan. Di tangan Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur, sinema bertransformasi menjadi ruang edukasi dan refleksi mendalam.

Langkah inovatif ini diwujudkan melalui agenda nonton bareng (nobar) film Cyberbullying: Ketika Dunia Menjatuhkanmu, Bisakah Kamu Bangkit Kembali?

BACA JUGA:Jaga Kualitas SDM, Dindik Jatim Percepat Revitalisasi Sarpras Sekolah di 2026


Mini Kidi--

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Diikuti oleh ratusan guru dan tenaga kependidikan, acara ini menjadi simbol sinergi lintas sektor antara Dindik Jatim dengan Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (KBP3A) Gresik.

Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa pemilihan film sebagai media sosialisasi merupakan langkah strategis untuk mengimplementasikan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

BACA JUGA:Gerbang SNBP 2026 Dibuka, Kadindik Jatim Bidik Barometer Prestasi dan Minta Tak Ada Manipulasi Data

"Melalui medium film, kami ingin membangun empati dan kesadaran kolektif akan bahaya cyberbullying. Pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui teori di ruang kelas, tapi pengalaman emosional dan reflektif seringkali jauh lebih efektif," ujar Aries, 

Film karya sutradara Rusmin Nuryadin yang berlatar Kota Makassar ini memotret realitas pahit perundungan digital. Melalui sosok Neira Kanjera, seorang siswi berprestasi yang hidupnya hancur akibat badai hujatan di medsos, para pendidik diajak menyelami betapa rapuhnya kesehatan mental remaja di tengah gempuran dunia maya.

Aries, yang juga mantan Pj Wali Kota Batu, menekankan bahwa di era digital, peran guru harus berevolusi. Guru tidak boleh lagi hanya menjadi pengajar materi akademik, tetapi wajib menjadi pendamping emosional yang peka terhadap perubahan perilaku siswa.

BACA JUGA:Tingkatkan Kualitas Pendidikan Disabilitas, Dindik Jatim Rombak Infrastruktur 5 SLB yang Dinegerikan

“Sering kali persoalan anak bermula dari ruang digital yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Guru harus hadir sebagai pendamping yang memahami situasi sosial dan emosional murid,” tambahnya.

Relevansi film ini dianggap sangat kuat dengan tantangan dunia pendidikan saat ini. Karya anak bangsa ini menjadi pengingat bagi para pendidik di Jatim untuk terus membimbing siswa agar tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak, berempati, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi di ruang publik digital.

Melalui inisiatif ini, Dindik Jatim berharap para guru pulang membawa perspektif baru: bahwa satu komentar di media sosial bisa mengubah hidup seseorang, dan tugas mereka adalah memastikan perubahan tersebut ke arah yang positif.

Sumber:

Berita Terkait