Mengenal Lebih Dekat Sejarah Kampung Lontong Surabaya
Yunus, salah satu pengusaha lontong--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Wilayah Banyu Urip Lor, Kupang Krajan, Kecamatan Sawahan, SURABAYA, terdapat sebuah kampung unik yang dikenal dengan sebutan Kampung Lontong.
Kampung ini menjadi salah satu destinasi kuliner tradisional yang menarik perhatian masyarakat. Salah satu pelopor usaha lontong di kampung ini adalah Yunus yang menjadi penerus generasi kedua setelah ibunya.
BACA JUGA:Gerakan Siskamling ‘Jogo Kampung Berkelas’, Wali Kota Malang Apresiasi Peran Aktif Warga

Mini Kidi--
Yunus menceritakan proses awal usaha lontong dikeluarganya, awalnya ibunya membuat lontong dengan metode biasa, yakni daun tidak dibalik sehingga bagian hijau berada di luar. Namun, hasilnya kurang menarik dan tidak laku keras di pasar.
"Awalnya, ibu saya bikin lontong itu daunnya enggak dibalik, jadi yang hijau di depan. Tapi enggak laku keras. Setelah itu, beliau mencoba membalik daunnya sehingga hasilnya lebih cantik dan rapi. Akhirnya, waktu dijual ke pasar, langsung laku keras," ujar Yunus.
BACA JUGA:Lestarikan Budaya Suroboyoan, Kampung Parikan Morokrembangan Jadi Ikon Budaya Lokal
Karena keunikan cara pembuatannya, banyak tetangga yang tertarik untuk belajar dari ibu Yunus. Setelah mendapatkan ilmu, mereka mulai menjual lontong sendiri di pasar.
Yunus menjelaskan bahwa proses pembuatan lontong cukup sederhana namun memerlukan ketelitian. Beras yang digunakan harus dicuci bersih terlebih dahulu, kemudian dikeringkan sebelum dimasukkan ke dalam potongan daun pisang.
"Daunnya kita balik supaya hasilnya lebih cantik. Setelah itu, kita rebus selama 8 jam. Kalau yang lain ada yang cuma 5 atau 6 jam, tapi kalau punya saya 8 jam biar kualitasnya tahan sampai 2 hari," tambahnya.
BACA JUGA:Mengenal Kampung Ketandan, Saksi Bisu Sejarah Kota Surabaya
Selain itu, ukuran lontong juga bervariasi, mulai dari yang kecil hingga besar. Harganya pun berbeda-beda, mulai dari Rp1.000 hingga Rp2.000 per buah.
"Kalau yang besar seperti ini harganya Rp2.000. Yang kecil itu Rp1.000," ujar Yunus.
Setiap rumah memiliki ciri khas tersendiri dalam membuat lontong, baik dari segi ukuran, bentuk, maupun harga. Namun, kesamaan utamanya adalah teknik pembuatan dengan membalik daun pisang agar hasilnya lebih menarik.
Sumber:

