Pesantren Roudlatud Darojat Lamongan Butuh Dukungan, Senator Lia Angkat Suara

Pesantren Roudlatud Darojat Lamongan Butuh Dukungan, Senator Lia Angkat Suara

Momen kebersamaan Lia Istifhama dengan pengasuh Ponpes Roudlatud Darojat Lamongan.--

LAMONGAN, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Di balik ketenangan Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran, Kabupaten LAMONGAN, tersimpan kisah pengabdian panjang dunia pendidikan berbasis keagamaan. Pondok Pesantren Roudlatud Darojat yang berdiri sejak 1999 menjadi rumah ilmu bagi ratusan santri dari berbagai penjuru Nusantara, sekaligus saksi perjuangan sunyi yang jarang tersorot.

Anggota DPD RI Lia Istifhama menegaskan bahwa pesantren ini memiliki kontribusi nyata dalam mencetak generasi berakhlak dan berilmu. Dalam kunjungan kerjanya, Ning Lia sapaan akrab politisi muda tersebut menyampaikan bahwa keberlangsungan kenyamanan belajar santri kini sangat membutuhkan dukungan pemerintah.

BACA JUGA:Ajak Mahasiswa dan Relawan Kedepankan Demokrasi Substansial, Ning Lia: Politik Itu Strategi Kebaikan


Mini Kidi--

“Pesantren ini telah melahirkan ratusan alumni sejak 1999. Namun, dengan jumlah santri yang terus bertambah, dukungan negara menjadi hal yang sangat krusial,” tutur Ning Lia, Selasa, 30 Desember 2025.

Kepercayaan masyarakat terhadap Pondok Pesantren Roudlatud Darojat tidak hanya datang dari warga lokal Lamongan. Saat ini, sekitar 500 santri menimba ilmu di bawah asuhan Kiai Mustaji, bahkan sebagian di antaranya berasal dari luar Pulau Jawa, termasuk Jakarta.

BACA JUGA:Peringatan Natal, Ning Lia Ajak Perkuat Harmoni dan Fondasi Keluarga

Reputasi pesantren ini tumbuh dari konsistensi pengajaran nilai-nilai keislaman yang kuat, berpadu dengan pendidikan formal yang terstruktur. Namun, tingginya animo masyarakat tersebut justru memunculkan tantangan baru, khususnya dalam hal kapasitas dan fasilitas pendidikan.

Selama lebih dari 20 tahun, seluruh operasional dan pembangunan fasilitas pesantren dilakukan secara mandiri. Kiai Mustaji memilih mengandalkan dana pribadi demi menjaga keberlangsungan pendidikan.

“Bagi beliau, melihat santri tumbuh dengan akhlak yang baik jauh lebih penting dibandingkan beban finansial yang harus ditanggung,” tutur Kiai Mustaji selaku pengurus Ponpes.

BACA JUGA:Refleksi Hari Ibu, Ning Lia: Ibu Adalah Arsitek Peradaban di Era Digital

Tak berhenti pada penyediaan ruang belajar, Kiai Mustaji menanggung biaya hidup dan pendidikan lebih dari 100 santri kurang mampu. Mulai dari kebutuhan makan hingga biaya sekolah formal, semuanya dibiayai secara pribadi agar tidak ada anak bangsa yang putus sekolah karena keterbatasan ekonomi.

Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga benteng sosial bagi masyarakat kecil.

Seiring bertambahnya santri setiap tahun, fasilitas yang tersedia kini telah mencapai batas maksimal. Ruang kelas dan asrama tidak lagi sebanding dengan jumlah santri, sehingga berpotensi mengganggu efektivitas pembelajaran dan kenyamanan hidup santri.

Sumber:

Berita Terkait