pupuk
iklan ulta memorandum

600 Truk Kepung Surabaya, Sopir Ancam Bertahan 3 Hari

600 Truk Kepung Surabaya, Sopir Ancam Bertahan 3 Hari

Ratusan truk saat memenuhi jalanan kota Surabaya. --

SURABAYA, MEMORANDUM.CO.ID - Ratusan truk mengepung kawasan Jalan Ahmad Yani, SURABAYA, Rabu 30 September 2026. Sekitar 600 kendaraan milik sopir yang tergabung dalam Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT) memadati depan Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur.

Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa sehari. Para sopir menyatakan siap bertahan hingga tiga hari untuk mengawal tuntutan mereka terkait pembelian solar subsidi.

Sejak sekitar pukul 12.00 WIB, truk logistik hingga kendaraan towing berdatangan dan diparkir di sepanjang kawasan depan Kantor Dishub Jatim. Padatnya kendaraan peserta aksi turut berdampak pada arus lalu lintas.

BACA JUGA:Ribuan Sopir Towing Demo Dishub Jatim Minta Kejelasan Regulasi BBM

Kemacetan bahkan dilaporkan merembet hingga kawasan Waru dan Taman, Sidoarjo.


Mini kidi--

Koordinator GSJT Supriyono mengatakan, aksi tersebut diikuti sopir dari 28 kabupaten/kota di Jawa Timur. Sejumlah sopir dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, Bali, hingga Sumatera juga ikut bergabung.

BACA JUGA:Derita Sopir Towing, Sulit Dapat BBM Meski Punya Barcode

Persoalan utama yang kembali mereka soroti adalah pemblokiran barcode pembelian BBM solar subsidi. Menurut Supriyono, masih ada sopir yang barcode-nya diblokir, kuotanya hilang, bahkan mengalami pemblokiran permanen.

"Persoalan kami masih tetap sama, berkaitan dengan barcode yang diblokir, yang kuotanya hilang, bahkan ada yang diblokir secara permanen," kata Supriyono.

Tak hanya barcode, para sopir juga meminta kepastian mengenai status kendaraan towing. Mereka mempertanyakan klasifikasi kendaraan tersebut, apakah masuk kategori car carrier, flatbed, towing, atau jenis kendaraan lainnya.

BACA JUGA:Mahasiswa dan Buruh Demo Hari Tani di Depan DPR RI, Tutut Tuntaskan Konflik Agraria

Ketidakjelasan klasifikasi tersebut dinilai berimbas pada akses pembelian solar subsidi. Sopir towing yang tidak bisa menggunakan BBM subsidi harus menanggung biaya operasional lebih besar.

"Karena hari ini mereka tidak boleh isi BBM subsidi, sehingga pengeluaran mereka lebih banyak dan upah mereka lebih sedikit yang didapat," ujarnya.

Sumber: