Fasilitas RPH TOW Dinilai Buruk, Asosiasi Jagal Surabaya Ancam Mogok Massal dan Demo Jilid II
Koordinator Asosiasi Jagal Surabaya, Abdullah Mansur.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Distribusi dan stabilitas harga daging sapi di Kota Pahlawan terancam lumpuh. Mitra jagal Rumah Potong Hewan (RPH) yang tergabung dalam Asosiasi Jagal dan Para Pedagang Daging Sapi se-Kota SURABAYA mengancam akan menggelar aksi mogok kerja massal dan demonstrasi jilid II dalam beberapa hari ke depan.
Langkah ekstrem ini dipicu oleh kekecewaan mendalam para jagal terhadap fasilitas di unit baru RPH Tambak Osowilangun (TOW) yang dinilai tidak layak dan jauh di bawah standar operasional. Padahal, RPH TOW baru saja beroperasi pada 1 Juni 2026 lalu setelah direlokasi dari RPH Pegirian.
BACA JUGA:Wali Kota Eri Cahyadi Buka Pintu Lebar bagi Jagal Baru di RPH Tambak Osowilangun

Mini Kidi Wipes.--
Koordinator Asosiasi Jagal Surabaya, Abdullah Mansur, menyatakan bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan konsolidasi internal untuk membangun kekuatan sebelum turun ke jalan. Sasaran utama aksi mereka adalah gedung DPRD Kota Surabaya dan kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
"Ini adalah alarm untuk beberapa hari ke depan. Kami sepakat akan mengadakan mogok kerja bersama dan melakukan aksi demonstrasi besar-besaran jilid dua. Tuntutan utama kami tegas, kembalikan aktivitas pemotongan ke RPH yang lama di Pegirian," ujar Abdullah kepada Memorandum pada Selasa 7 Juli 2026.
BACA JUGA:RPH Osowilangun Minim Air, Pasokan Daging Surabaya Tetap Aman
Abdullah membeberkan sejumlah borok fasilitas di RPH TOW yang dikeluhkan para jagal. Salah satu yang paling krusial adalah sistem pembuangan limbah di ruang jagal yang buruk, menyebabkan darah hewan potong menggenang dan tidak mengalir secara maksimal. Kondisi ini dinilai mengancam higienitas daging.
Selain itu, peralatan mekanis seperti katrol atau roll pengangkut daging pasca pemotongan tidak berfungsi optimal, sehingga memaksa para pekerja mengeluarkan tenaga ekstra secara manual.
Tak hanya masalah teknis di dalam gedung, akses geografis RPH TOW juga dianggap menyengsara para pedagang.
BACA JUGA:Operasional RPH Tambak Osowilangun Dimulai, Ratusan Sapi Dipotong dalam Empat Hari
"Akses jalan dari Tambak Osowilangun menuju pasar-pasar tradisional mengalami hambatan luar biasa. Setiap hari kami harus berperang dengan truk kontainer, kendaraan besar-besar dan kemacetan parah. Akibatnya, distribusi daging terlambat dan tidak maksimal," keluh Abdullah.
Para jagal merasa Pemkot Surabaya melakukan pemindahan paksa tanpa adanya perencanaan yang matang. Sejak awal, rencana relokasi ini diklaim minim sosialisasi dan tidak pernah melibatkan para mitra jagal selaku pengguna fasilitas utama.
"Kami tiba-tiba disodorkan bangunan yang sudah jadi. Blueprint perencanaan tidak pernah melibatkan kami, kami tidak pernah diajak rembukan ke sana. Begitu jadi, Pemkot memaksa relokasi dari Pegirian ke TOW," tukasnya.
Sumber:






