Ahli Forensik Unair Tekankan Autopsi pada Kasus Kematian Diduga Asfiksia
Prof Ahmad Yudianto menjelaskan pentingnya autopsi pada kasus dugaan asfiksia.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menegaskan pentingnya autopsi untuk memastikan penyebab kematian pada kasus diduga asfiksia, Jumat 17 April 2026.
Kasus kematian mantan dosen UIN Maulana Malik Ibrahim, Imam Muslimin atau Yai Mim, kembali menjadi sorotan.

Mini Kidi Wipes.--
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Prof. Dr. Ahmad Yudianto, dr., Sp.FM(K), menjelaskan tanda-tanda asfiksia dapat dikenali sejak pemeriksaan awal.
Menurutnya, dalam ilmu kedokteran forensik, asfiksia merupakan mekanisme kematian, bukan penyebab utama.
BACA JUGA:Kasus Kematian Yai Mim Diduga Asfiksia, Dokter Soroti Pentingnya Autopsi
"Tanda asfiksia bisa ditemukan baik pada pemeriksaan luar maupun pemeriksaan dalam melalui otopsi," ujar Prof. Ahmad Yudianto.
Ia menyebut secara kasat mata tanda asfiksia dapat berupa perubahan warna kebiruan pada bibir dan kuku.
Selain itu, juga dapat ditemukan bintik perdarahan pada selaput mata serta pelebaran pembuluh darah di bola mata.

Gempur Rokok Ilegal. Laporkan Peredaran Rokok Ilegal ke Kantor Bea Cukai Malang.--
Meski demikian, ia menegaskan temuan tersebut belum cukup untuk memastikan penyebab kematian.
Menurutnya, diperlukan pemeriksaan lebih mendalam melalui autopsi untuk mengetahui penyebab pasti.
"Asfiksia adalah mekanisme kematian. Untuk mengetahui penyebab yang mengakibatkan asfiksia hingga meninggal, harus dilakukan otopsi," tegasnya.
BACA JUGA:Kematian Yai Mim di Malang Akibat Asfiksia, Dokter Pastikan Tidak Ada Tanda Kekerasan
Ia menambahkan, autopsi memiliki peran penting dalam mengungkap fakta medis pada kasus kematian tidak wajar.
Tanpa autopsi, penyebab kematian berisiko disalahartikan.
Hal ini diharapkan dapat memberikan pemahaman bahwa tidak semua kematian akibat gangguan napas memiliki penyebab yang sama. (Ain)
Sumber:







