Penjahit Kampung Gading Surabaya Bertahan di Tengah Persaingan Harga Ketat
Penjahit Kampung Gading menanti pesanan di Setro Gang 3 Surabaya.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Puluhan penjahit di Kampung Jahit, Setro Gang 3, Kelurahan Gading, bertahan menanti pesanan di tengah ketatnya persaingan harga dan terbatasnya order, Rabu 19 Februari 2026.
Wilayah tersebut dikenal sebagai Kampung Jahit yang dihuni puluhan warga berprofesi sebagai penjahit.

-kidi---
Lurah Gading, Efran Priambodo, mengungkapkan keberadaan Kampung Jahit bukan sekadar sebutan, melainkan telah mendapat perhatian Pemerintah Kota Surabaya.
"Kampung Jahit ini sudah ada jauh sebelum saya bertugas di Gading. Penjahit ini menetap di satu RT dan sudah turun-temurun, bahkan Pak Wali Kota pernah meninjau langsung ke sini," ujar Efran.
BACA JUGA:Berdayakan Ibu Rumah Tangga, Kampung Batik Pegirian RW 10 Surabaya Fokus Kembangkan Teknik Shibori
Efran menjelaskan, terdapat sekitar 35 penjahit aktif yang bekerja setiap hari di rumah masing-masing dan jumlahnya dapat meningkat ketika pesanan dalam skala besar datang.
"Kalau sedang ada order besar, seperti seragam sekolah atau pesanan sandal dari hotel, jumlah penjahit yang berkumpul bisa mencapai 200 orang lebih," jelasnya.
BACA JUGA:Strategi Kampung Bulaksari Wonokusumo Ciptakan Lingkungan Bebas Asap Rokok
Menurutnya, tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan pesanan dan persaingan harga yang ketat di pasaran.
"Keluhannya ya kalau tidak ada order. Sekarang banyak kompetitor, sehingga antar perajin bisa terjadi persaingan harga yang sangat ketat," tambah Efran.
Selain itu, pihak kelurahan mengaku terus berupaya mencarikan peluang kerja sama baru agar para penjahit tetap memiliki mata pencaharian.

Gempur--
"Kami tetap berupaya mencarikan order. Potensinya besar, karena mereka bisa langsung mengerjakan jika bahan dan pesanan tersedia. Kami ingin menaikkan kembali marwah Kampung Jahit ini agar lebih meningkat," pungkasnya. (yat)
Sumber:



