Tak Pernah Disentuh: Pernikahan yang Terasa Sepi (1)
-Ilustrasi-
“Kamu tidak pernah mendekat lagi.”
Bintang terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Kamu terlalu memikirkan hal-hal kecil.”
Bulan menatap langit-langit kamar yang gelap. Bagi Bintang mungkin itu hal kecil. Tapi bagi seorang istri, kedekatan bukan sekadar kebutuhan fisik. Ia adalah tanda bahwa cinta masih hidup.
Hari-hari berikutnya Bulan mulai memperhatikan lebih banyak hal. Bintang selalu membawa ponselnya kemana-mana. Ia sering tidur lebih larut, kadang tertawa kecil saat membaca sesuatu di layar.
Namun yang paling menyakitkan bukan kecurigaan.
Yang paling menyakitkan adalah perasaan tidak diinginkan.
Suatu malam, saat mereka sedang makan, Bulan berkata dengan jujur, “Aku merasa seperti teman serumah, bukan istrimu.”
Bintang menghela napas panjang. “Kamu terlalu sensitif.”
Kalimat itu menutup percakapan, tapi tidak menutup luka.
Bulan mulai bertanya pada dirinya sendiri: apakah masalahnya ada pada dirinya? Apakah ia tidak cukup menarik? Apakah pernikahan mereka hanya tinggal formalitas tanpa kedekatan yang seharusnya ada?
Di rumah itu tidak ada teriakan. Tidak ada pengkhianatan yang terlihat jelas.
Hanya ada satu kenyataan sunyi yang semakin sulit diabaikan: Bulan hidup dalam pernikahan di mana suaminya selalu ada… tapi tidak pernah benar-benar menyentuhnya.

Gempur Rokok Illegal--
Dan ia mulai bertanya pada dirinya sendiri sesuatu yang belum pernah ia berani pikirkan sebelumnya.
Apakah ini masih bisa disebut pernikahan?
Sumber:




