Bukan Sekadar Ritual, tapi Kebersamaan: Makna Ramadan dan Lebaran bagi Ozi Yudit Mulya
Ozi Yudit Mulya (tengah) Ozi bersama teman-teman.-Arif Alfiansyah-
Meskipun belajar gerakan salat dan bacaan doa membutuhkan waktu serta ketelatenan, ia menjalaninya dengan sukacita.
BACA JUGA:Perjalanan Bobby Lubis Temukan Rumah di Dalam Islam, Saat Cinta Membuka Pintu Langit
Beruntung, ia tidak sendirian dalam perjalanan ini. Keluarga dan teman-temannya menjadi pilar pendukung utama yang dengan sabar meluangkan waktu untuk membimbingnya belajar beribadah.
Respons keluarga besar Ozi tergolong sangat positif. Mereka mendukung penuh pilihan hidupnya, namun tetap memberikan pesan yang mendalam sebagai bekal spiritualitas agar ia tidak setengah hati dalam melangkah.
BACA JUGA:Perjalanan Sunyi Andik Mencari Kebenaran Iman, Gagal Jadi Pastor Malah Temukan Islam
"Keluarga berpesan, jangan sampai agama yang kamu pilih dibuat main-main. Harus ditekuni dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh," tambahnya.
Menurut Ozi, Islam bukan sekadar ritual ibadah semata, tetapi juga tentang kebersamaan dan kehangatan sosial.
BACA JUGA:Perjalanan Iman dan Toleransi Tanjaya, Cahaya Hati di Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya
Ia mengaku sangat terkesan dengan suasana Ramadan, mulai dari momen sahur sambil menahan kantuk, serunya ngabuburit berburu takjil, hingga syahdunya salat Tarawih berjamaah di masjid yang memberikan energi positif.
BACA JUGA:Perjalanan Fransiskus Hermawan Priyono Menjadi Imam Keluarga, Tangis Bahagia di Sajadah Subuh
Menjelang Lebaran, hal yang paling ia rindukan adalah tradisi mudik dan berkumpul bersama keluarga besar. Baginya, momen sungkeman, takbiran, hingga berbagi tunjangan hari raya adalah bentuk penguat empati dan kasih sayang antar sesama.
BACA JUGA:Merinding Baca Syahadat, Kisah Perjalanan Spiritual Angga Wibisono Jadi Mualaf
Tak lupa, kuliner khas seperti ketupat, opor ayam, dan rendang selalu menjadi kenangan manis yang melengkapi perjalanan spiritualnya yang kini terasa lebih bermakna. (alf/nov)
Sumber:





