Banjir Masih Menghantui

Banjir Masih Menghantui

Muchlis Darmawan--

Banjir masih menjadi momok bagi beberapa wilayah kota/kabupaten di Jawa Timur, khususnya di Kota Surabaya. Terutama saat menghadapi musim penghujan seperti sekarang ini. Sedikitnya saat ini masih ada 250 titik Banjir yang ada di wilayah Kota Pahlawan.    

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengklaim titik Banjir sekarang ini sudah berkurang, dari semula 451 titik kini menjadi 250 titik. Tentu ini tetap menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemkot untuk terus menekan jumlah titik Banjir agar semakin sedikit. Sebab, masih banyak kawasan di saat hujan deras selalu kebanjiran.

Salah satu penyebab Banjir di Surabaya karena kurangnya tatanan pembangunan drainase dan minimnya ruang penampungan atau resapan air. Meskipun sudah ada drainase, namun ada faktor lain yang menyebabkan air hujan tidak bisa dialirkan dengan baik, yaitu minimnya resapan air.

Drainase ini adalah cara untuk penanggulangan genangan ketika hujan turun. Drainase yang dibangun juga harus merupakan drainase yang terintegrasi dengan baik, antara saluran primer, sekunder, dan tepi. Namun, beberapa wilayah di perkampungan saluran air tersebut hanya berfungsi sebagai tampungan air karena tidak terkoneksi dan terintegrasi.

Sistem drainase yang ada di Kota Surabaya saat ini tak sesuai dengan volume air, ditambah pula dengan curah hujan yang tinggi membuat drainase tak bisa menampung luapan air yang ada.

Meski pembangunan saluran terus dilaksanakan hingga menambah jumlah rumah pompa baru dan penambahan kapasitas mesin rumah pompa, namun Banjir masih saja melanda. Apalagi jika tidak ada penambahan pembangunan, atau normalisasi saluran tentu persoalan Banjir akan terus menghantui.

Bahkan warga di perbatasan Surabaya Selatan sangat berharap adanya pembangunan rumah pompa di wilayahnya. Hal ini tidak saja sebagai upaya penanganan genangan saat ini, namun juga ke depannya. Di mana di wilayah ada saluran yang juga menampung aliran dari  wilayah kabupaten lain yang berbatasan.

Terkait pembangunan saluran, Pemkot Surabaya sudah membuat perencanaan yang disebut dengan Surabaya Drainase Master Plan (SDMP). Namun apakah perencanaan SDMP tersebut hingga mencapai tingkat perkampungan.

Nah, apakah perencanaan di dalam drainase master plan yang telah dibuat tersebut sudah dilaksanakan belum sesuai dengan tahapannya. Dan perencanaannya sudah diimplementasikan dengan benar apa tidak.

Selain drainase yang belum terpenuhi, elevasi permukaan air laut yang lebih tinggi dari daratan juga menjadi indikator penyebab terjadinya genangan. Karenanya, ketika hujan turun, air yang mengalir tidak bisa langsung masuk ke laut.

Banyak saluran box culvert yang sudah dibangun lama, sekitar 5-10 tahun lalu itu, apakah telah dilakukan pemeliharaan dengan baik dan dapat meyakinkan masyarakat bahwa tidak ada sampah dan sedimen yang menyumbat. Belum lagi masih banyak dijumpai bangunan yang berdiri di atas saluran air. Hal ini berdampak terjadinya penyempitan saluran.

Jangan-jangan justru karena terlalu lama tidak ada pemeliharaan, sedimen malah menjadi tanah keras yang menghambat aliran air dalam box culvert. Operasional manual dan pemeliharaan harus dilakukan agar kenerja fungsi drainase tetap seperti yang direncanakan. Termasuk normalisasi saluran yang penuh dengan endapan tanah.
 
Kita tahu bahwa, Pemkot Surabaya terus berkomitmen menuntaskan persoalan Banjir yang terjadi di sejumlah wilayah di Kota Pahlawan. Penanganan Banjir pun dilakukan dengan menerapkan skala prioritas dan pemetaan wilayah.

Nah, sebagai bentuk komitmen dalam menyelesaikan persoalan itu, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya melakukan perjanjian kontrak kinerja dengan Wali Kota Surabaya.
 
Kita berharap, semoga di 2024 ini Pemkot Surabaya melalui DSDABM yang dipandegani oleh kepala dinas yang baru, dapat mewujudkan keinginan warga Kota Pahlawan agar Banjir atau genangan tidak terus menghantui di kala musim penghujan.

Sumber: