Mayatnya Disembunyikan di Tumpukan Daun
-Ilustrasi-
BACA JUGA:Direncanakan Sepekan, Tersangka Pembunuhan Madiun Pelajari Cara Mencekik lewat Internet dan AI
“Itu kondisi mesin sudah terbongkar. Baut sendiri, besi mesin sendiri, terus diesel penggeraknya sendiri. Disuruh menjual, tapi bahasanya disuruh blender. Itu kemudian saya mengajak DI (saksi) untuk mengangkut menggunakan pikap ke Pasar Njoyo,” terangnya.
Saat itu, YY juga tidak menaruh curiga karena mesin yang baru dibeli, kemudian dibongkar dan dijual. YY hanya menduga jika istrinya tidak menghendaki Tono membeli alat dengan harga mahal.
BACA JUGA:Keluarga Korban Pembunuhan Sadis Madiun Tuntut Tersangka Dihukum Mati atau Seumur Hidup
“Saya tidak curiga, cuma pikiran saya itu dia habis cekcok dengan istrinya karena membeli alat mahal. Kemudian Tono mikirnya dari pada ramai-ramai dengan istri lebih baik dijual saja. Karena kan Tono pernah ada riwayat pisah ranjang dengan istri lama. Hampir dua tahun,” ucapnya.
Ia menyebut besi mesin pencacah dijual seharga Rp 1,1 juta, dan diesel penggeraknya laku dengan harga Rp 500 ribu. Uang itu diberikan kepada jasa angkut Rp 200 ribu, dan YY mendapat upah Rp 100 ribu. Sisa uangnya diberikan kepada Tono.
BACA JUGA:Tangis Keluarga Pecah saat 15 Fragmen Tulang Korban Pembunuhan Sadis Madiun Diserahkan
YY juga mengungkapkan, setelah mesin pencacah tersebut dijual, sebuah cerobong dibangun di rumah Tono. Ia menyebut pembangunan cerobong dilakukan pekerja yang juga dikenalnya.
“Cerobong itu dibangun setelah saya menjual mesinnya. Siang hari sudah dibangun,” ungkap YY.
Dalam wawancara itu, YY juga menceritakan situasi rumah ketika diminta Tono menjualkan mesin pencacah. Ia menyebut istri Tono berada di rumah dan sempat menawarkan minuman kepadanya.
BACA JUGA:Kasus Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun, Polisi Temukan Bukti Perencanaan dari HP Tersangka
“Istri Tono ada di rumah. Dia sempat menawarkan kopi atau teh. Kemudian dibuatkan kopi dan diantar di gazebo belakang rumah itu, kemudian istrinya diminta Tono untuk masuk ke dalam rumah lagi,” ujarnya.
Hari berikutnya, tepatnya 12 Oktober 2026, YY kembali dihubungi Tono untuk membelikan tong (drum, red) bekas. Namun YY juga tidak mengetahui untuk apa tong tersebut.
BACA JUGA:Terinspirasi Film, Pengacara Korban Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun Endus Motif Lain
“Tono sudah menunjukkan tempatnya lewat google map. Dikasih uang dan diminta beli tong bekas di daerah Dungus. Itu yang kapasitas 150 liter dua buah dengan harga satunya Rp 250 ribu. Yang 50 liter harga Rp 100 ribu, beli tiga buah,” tandasnya. (adi)
Sumber:








