selamat menunaikan ibadah ramadan 2026

Akar Rumput, Warung Kopi, dan Isu Perang Hari Ini

Akar Rumput, Warung Kopi, dan Isu Perang Hari Ini

Ilustrasi suasana warung kopi tempat warga membahas isu konflik global dan dampaknya terhadap ekonomi.-(sumber foto: AI)-

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Berita tentang ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat berputar nyaris tanpa jeda di televisi, TikTok, YouTube, facebook, dan sosial media lainnya. Gambarnya ledakan. Narasinya tegang. 

BACA JUGA:Konflik Timur Tengah Picu Keterlambatan Kapal, Pelabuhan Surabaya Tetap Stabil

Video yang memancing kemarahan atau ketakutan lebih mudah naik. Di TikTok dan Instagram Reels, potongan gambar dramatis sering dilepaskan dari konteks.


Mini Kidi Wipes.--

Namun di warung kopi, orang-orang cenderung lebih pragmatis. Mereka tidak sepenuhnya percaya pada satu sumber. Mereka mengakui ada banyak versi cerita. Dan pada akhirnya, mereka mengembalikan semua itu pada pertanyaan paling realistis: dampaknya apa bagi kami?

BACA JUGA:Konflik Timur Tengah Memanas: Apakah Aman Berkunjung ke Dubai dan Abu Dhabi?

Perang tidak dibicarakan sebagai strategi atau manuver militer. Ia diterjemahkan menjadi sesuatu yang lebih konkret, yaitu harga.

Orang-orang kecil tidak menghitung radius rudal. Mereka menghitung pengeluaran. Mereka tidak membahas aliansi global. Mereka membahas cicilan motor, harga beras, ongkos kirim, dan minyak goreng. Bagi mereka, rumusnya sederhana dan nyaris selalu benar.

BACA JUGA:Konflik Iran-Israel Memanas: Penerbangan Timur Tengah Tertunda, Umrah Ditunda

" Jika konflik memanas dan harga minyak dunia naik, maka cepat atau lambat dapur rumah tangga akan ikut terasa panas".

Di warung kopi, para pelanggan mendengar berita itu dengan setengah percaya dan setengah cemas. Mereka tidak sepenuhnya paham detail konflik, tetapi mereka paham pola akibatnya.

BACA JUGA:Perang AS Iran Belum Kondusif, Ini Daftar Hotline WNI di Timur Tengah

Setiap kali dunia bergejolak, harga-harga di pasar seperti punya kebiasaan ikut merangkak naik. Dan ketika harga naik, ruang napas ekonomi keluarga makin sempit.

Di sisi lain, simpati tetap ada. Meski pembahasan mereka praktis dan berpusat pada ekonomi, empati terhadap warga sipil di wilayah konflik muncul secara spontan. Orang-orang kecil paham rasanya hidup tanpa kuasa atas keputusan besar.

Sumber: