Dwelling Time Membengkak, Importir Menjerit karena Rugi Miliaran
Seorang importir yang rutin mendatangkan barang dari Tiongkok mengaku mengalami kerugian besar akibat lamanya proses pengeluaran barang di Pelabuhan.--
Sebelumnya, pada akhir Desember 2025 pengusaha Surabaya lainnya, Suharto mengungkapkan, sebelumnya ia importir barang dari Tiongkok.
“Kalau biaya operasional terus melonjak — terutama demurrage dan storage — maka usaha kami sulit bertahan.” Ia berharap proses clearance barang impor dapat dipercepat agar beban biaya tidak semakin berat.
Dampaknya, biaya penyimpanan (storage) dan denda keterlambatan (demurrage) ikut melonjak.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah melalui Kementerian Keuangan Republik Indonesia bersama tim Indonesia Border Inspection (IBI) untuk menekan peredaran barang impor ilegal, khususnya pakaian bekas dan produk tekstil.
Pemeriksaan dilakukan langsung di pelabuhan dan gudang, bukan lagi di pasar tradisional. Namun, implementasi yang masif dinilai memperpanjang waktu penyelesaian barang, sehingga kontainer tertahan lebih lama dari biasanya.
Sementara itu, Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Tanjung Perak, Navy Zawariq, menyampaikan bahwa rata-rata dwelling time di Pelabuhan Tanjung Perak per Maret 2026 tercatat 3,91 hari.
Ia menegaskan, apabila terdapat barang yang tertahan melebihi waktu tersebut, ada banyak faktor yang perlu ditelusuri.
Salah satunya terkait kelengkapan dokumen pemberitahuan impor barang (PIB) serta kepatuhan terhadap aturan larangan dan pembatasan.
“Perlu dicek apakah PIB sudah disampaikan dengan benar dan apakah seluruh ketentuan sudah dipenuhi. Banyak faktor yang memengaruhi. Jadi bukan semata-mata karena dwelling time, tetapi justru menjadi penyumbang meningkatnya dwelling time itu sendiri,” jelasnya.
Navy menambahkan, ketepatan dalam penyampaian dokumen mulai dari uraian barang, nilai, hingga perizinan menjadi kunci agar proses pengeluaran barang tidak terhambat.
Ia juga memastikan, Bea Cukai Tanjung Perak melalui sistem CEISA 4.0 dan dukungan sistem lainnya terus berupaya meningkatkan pelayanan customs clearance serta koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan di lingkungan pelabuhan.
“Capaian dwelling time juga sangat bergantung pada kontribusi pelaku usaha dalam menjalankan kewajibannya,” pungkasnya.
Sumber:







