Lebaran di Rumah, Rutan di Belakang Pintu
--
BACA JUGA:Polisi Lagi Dicoba atau Justru Sedang Mencoba?
Maka publik kembali mengernyitkan dahi. Kalau memang harus di rutan, mengapa sempat di rumah? Kalau memang boleh di rumah, mengapa harus buru-buru dikembalikan?
Di sinilah satir bekerja.
BACA JUGA:Ketika Tertawa Tidak Lagi Gratis
Hukum kita kadang seperti sandiwara Lebaran di televisi: penuh drama, ada jeda iklan, dan sering kali penonton dibuat bertanya—ini serius atau sekadar hiburan?
Yang jelas, kepercayaan publik tidak bisa ditahan rumah. Ia harus dijaga di ruang terbuka—transparan, konsisten, dan tidak tebang pilih.
BACA JUGA:Membela Istri Bisa Menggugurkan Jabatan
Lebaran seharusnya jadi momentum kembali ke fitrah. Termasuk bagi penegakan hukum: kembali ke prinsip.
Bahwa semua orang sama di depan hukum.
BACA JUGA:Polisi Mau Pulang ke Mana
Tanpa ruang tamu khusus. Tanpa “Lebaran versi berbeda”.
BACA JUGA:Burung Besi Itu Kalah di Bulusaraung
Karena jika hukum bisa dinegosiasikan seperti jadwal silaturahmi, maka yang hilang bukan sekadar rasa keadilan—tapi juga akal sehat kita bersama.
Sumber:







